Halal bihalal 1445 H
Susunan acara halal bihalal 1445 H
Assalamualaikum wr wb
الْحَمْدُلِلَّه رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ
“Alhamdulillahi rabbil’aalamiin, wash-sholaatu wassalaamu ‘ala isyrofil anbiyaa i walmursaliin, wa’alaa alihi washohbihii ajma’iin ammaba’adu.”
Arti doa pembuka majelis adalah:
“Segala puji bagi Allah Tuhan Seluruh Alam. Semoga shalawat dan keselamatan tercurahkan selalu kepada Nabi dan Rasul termulia, keluarga, dan sahabat-sahabatnya
Yth.
1.ust Didit Purwanto
2.Bapak Rois Jumono Harto
3.Sesepuh dan penasehat Takmir
4.Kaum muslimin dan muslimat
Ijinkan lah pembawa acara malam ini membacakan
Susunan Acara Halal Bihalal di Mesjid Nurul Islam Jetis Sinduadi Mlati Sleman
1.Pembukaan
2.(Pembacaan ayat suci Al-Qur'an )
3.Sambutan sekaligus
Ikrar syawalan (Rois)
4.Tausiyah dan doa (Ust.Didit Purwanto)
5.Penutup
7.Salam-salaman
Sebelum kita tutup perkenankan pembawa acara memohon maaf bila ada silap kata dan tindakan yg tidak berkenan dalam membawakan acara malam ini.
Terima kasih kepada pihak yg telah membantu acara ini. Wassalamualaikum wr wb
Yth kepada bapak dan ibu dimohon berdiri utk saling bersalam salaman
Allahumasoli alla Muhammad ya Robbi soli ngalaihi wasallim
Selesai
Ikrar syawalan mesjid Nurul islam Jetis.
assalamualaikum wr wb
Bismillahirrohmanirrohim.
Asyhaduala ila haillallah
Waasyhaduanna Muhammad dar rosulullah
Wonten ing dinten Aidil Fitri suryo kaping 1445 H meniko kulo ngaturaken :
1.Salam taklim dumateng kulo lan panjenengan sami, kanti atur taqoballahu minna wamingkum, minal aidzin walfaidzin. Mugi Allah nampi amal kulo lan amal pajenengan
2.Kulo taqorub dumateng ngarso dalem Allah SWT. Kulo ngakene sedoyo doso kulo dumateng Allah SWT, mugi Allah paring pangapunten dumateng kulo, lan kulo ngakene , sedoyo salah khilaf kulo dumateng sesamine gesang, putro , wayah, tonggo tepalih, ingkang kulo sengojo lan ingkang mboten kulo sengojo mugi panjenengan Paring pangapunten dumateng kulo,lan ugi menawi panjenengan wonten salah lan khilaf dumateng kulo,engkang panjenengan sengojo kalian ingkang mboten panjenengan sengojo,kulo kanthi iklas lilo legowo badhe caos pangapunten dumateng panjenengan
3.kulo lan penjenengan , monggo sami sami dongo dinongo , mugi Allah paring dumateng kulo lan panjenengan umur panjang ingkang manfaat, rejeki katah ingkang kebak barokah, putro wayah ingkang sholeh lan sholehah , akhir gesang ingkang husnul khotimah .
Mugi Allah ngijabahi , sedoyo hajat kulo lan hajat panjenengan . Aamiin ya robbal alamin.
Wassalamualaikum wr wb
Doa akhir majelis :
Subhaanakallohumma wa bihamdika, asy-hadu alla ilaha illa anta, as-tagh-firuka wa atuubu ilaik
Artinya:
“Maha Suci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu; kecuali diampuni baginya dosa-dosa selama di majelisnya itu.”
Saling meminta maaf dan memafkan sangat penting dalam berkehidupan sosial. Ini dijelaskan juga dalam hadis tentang meminta maaf.
Selain memaafkan, meminta maaf juga membutuhkan keberanian yang luar biasa.
Sebab, setiap orang pasti melakukan kesalahan dan saling memaafkan akan menjadi kunci dari ketentraman hati.
Bahkan, hal tersebut bisa menjadi sebuah terapi.
menunjukkan bahwa sikap memaafkan dan meminta maaf dapat dijadikan sebagai terapi kejiwaan.
Karena dengan meminta maaf dan memafkan dapat membuat hati menjadi lebih ringan, tenang, dan tenteram.
Terdapat beberapa hadis tentang meminta maaf, di antaranya:
1. Hadis tentang Meminta Maaf dan Kezaliman
رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَتَاهُ أَخُوْهُ مُتَنَصِّلاً فَلْيَقْبَل ذَلِكَ مِنْهُ مُحِقّاً كَانَ أَوْ مُبْطِلاً، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ لَمْ يَرِدْ عَلَيَّ الْحَوْضَ
Artinya: “Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah SAW: ‘Barang siapa pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat).
(Kelak) jika dia memiliki amal saleh, akan diambil darinya seukuran kezalimannya.
Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizalimi) kemudian dibebankan kepadanya,” (HR. Bukhari).
Satu hal positif yang semestinya dilakukan untuk menghapus perbuatan salah adalah meminta maaf.
Ini akan berguna untuk meredam amarah yang ada dalam diri orang yang dizalimi.
Penyesalan atas kata-kata atau perbuatan di masa lalu, serta janji untuk tidak mengulangi perbuatan salah berfungsi untuk meredam amarah yang bergejolak dalam diri seseorang yang disakiti.
2. Hadis tentang Meminta Maaf dan Memaafkan sebagai Hal yang Mulia
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ
Artinya: "Sedekah itu tidak mengurangi harta dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat)."
3. Hadis tentang Meminta Maaf dan Pentingnya Berbaikan
Di dalam riwayat lainnya, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah memberi tambahan kepada seseorang hamba yang suka memberi maaf melainkan kemuliaan,” (HR. Muslim).
Dan hadis lain yang masih memiliki keterkaitan dengan hal ini adalah: “Tidak halal bagi seorang mukmin untuk tak bersapaan dengan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari,” (HR. Muslim).
Memaafkan sama sekali bukan merupakan perkara yang kecil.
Dibutuhkan sebuah hati yang lapang dan pikiran yang jernih untuk bisa memaafkan seseorang.
Begitupun meminta maaf dan mengakui kesalahan itu adalah perbuatan yang butuh keberanian besar.
Maka, sungguh perbuatan maaf dan memaafkan sangat dimuliakan oleh Islam.
Sebab, tidak diperkenankan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya selama lebih dari 3 hari.
Kemudian yang paling baik di antara keduanya adalah yang terlebih dahulu memberi salam.
Artinya telah timbul sebuah kelegaan hati dari salah satu di antara mereka yang memiliki potensi mencairkan suasana dan yang lebih indah adalah saat hal tersebut diakhiri dengan saling maaf memaafkan.
Setelah memahami beragam hadis tentang meminta maaf, semuanya berkaitan dengan keutamaan tindakan saling memaafkan.
Dalam Alquran Allah SWT berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ
Khużil-'afwa wa`mur bil-'urfi wa a'riḍ 'anil-jāhilīn
Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh,” (QS. Al-A’raf: 199).
Memaafkan adalah salah satu di antara akhlak Islam yang paling utama.
Tapi, tak sebanyak itu orang berbicara tentang keutamaan meminta maaf.
Padahal, meminta maaf juga merupakan akhlak yang amat mulia yang harus dimiliki oleh umat Islam. Beberapa keutamaan meminta maaf yakni:
1. Memperbaiki Silaturahmi
Selaturahmi akan meningkatkan rasa kedamaian dari pihak-pihak yang pernah berseteru atau pernah mengalami kekeliruan karena suatu hal.
Berdamai dengan diri sendiri juga menjadi keutamaan setelah seseorang telah berusaha untuk meminta maaf terlebih dahulu atas kesalahan yang pernah diperbuat.
Hadis dari Abu Hurairah RA yang telah disebutkan di atas menunjukkan betapa pentingnya meminta maaf.
Bahkan, terdapat kerugian yang luar biasa bagi orang yang terlambat meminta maaf.
Misalnya dengan terhapusnya amal-amal baik yang pernah dilakukan atau ditambahkannya amal-amal buruk orang yang pernah dizalimi kepada tumpukan amal buruknya.
2. Tidak Masuk Surga Orang yang Memutus Silaturahmi
Rasa enggan untuk meminta maaf atau memaafkan dapat memutus silaturahmi.
Alquran mengancam dengan keras tindakan memutuskan silaturahmi ini.
Terkait dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam Alquran:
وَالَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْ ۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۙ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْۤءُ الدَّارِ
Wallażīna yangquḍụna 'ahdallāhi mim ba'di mīṡāqihī wa yaqṭa'ụna mā amarallāhu bihī ay yụṣala wa yufsidụna fil-arḍi ulā`ika lahumul-la'natu wa lahum sū`ud-dār
Artinya: “Orang-orang yang merusakkan janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (yakni, silaturahmi), dan mengadakan kerusakan di bumi.
Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (neraka jahanam),” (QS. Ar-Ra’d: 25).
Rasulullah SAW juga menegaskan hal ini dengan sabdanya: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus (silaturahmi),” (HR. Bukhari).
3. Tindakan Mulia yang Menggugurkan Rasa Bersalah
Perbuatan salah yang dilakukan kepada orang lain akan menjadi beban yang terus memberatkan hati jika belum dimaafkan.
Perasaan bersalah pun akan terus menghantui.
Kaena termasuk penyambung dalam silaturahmi, Rasulullah SAW menunjukkan bahwa meminta maaf bukan sesuatu yang akan menghinakan, tapi merupakan tindakan yang amat mulia.
Sedemikian mulianya sehingga terbukanya pintu surga dan keterbebasan dari neraka sebagai ganjarannya.
Terkait dengan ini, Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa saja yang senang diberi lebih banyak rezeki dan umur panjang, maka dia harus menjalin hubungan baik (silaturahmi) dengan orang tua dan saudaranya,” (HR. Bukhari).
Dalam hadis tentang meminta maaf ini sangat berkaitan dengan terjalinnya hubungan silaturahmi.
Islam memberi pahala bagi orang yang mampu maaf memaafkan dengan hati ikhlas dan ringan.
Perbuatan yang dipandang kecil namun sungguh dibutuhkan usaha yang besar.
jangan enggan meminta maaf terlebih dulu jika memang ada salah








0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda