bakul 24
7 Simbol Bahan Kimia Berbahaya
Bahan-bahan kimia yang ada
di laboratorium memiliki sifat yang beraneka ragam. Di antara sifat-sifatnya
tersebut, ada beberapa di antaranya yang ternyata dapat membahayakan bagi
kesehatan dan keselamatan para pekerja dan lingkungannya (K3LH). Untuk
membedakan antara bahan kimia berbahaya dengan bahan kimia yang tidak berbahaya
diperlukan suatu simbol khusus yang bersifat universal. Inilah yang mendasari
dibuatnya suatu peraturan tentang simbol bahan kimia berbahaya. Melalui peraturan
tersebut, dibuatlah suatu simbol-simbol yang menandakan sifat berbahaya dari
suatu bahan kimia. Simbol-simbol bahan kimia tersebutlah yang akan dijelaskan
pada artikel kali ini.
Simbol Bahan Kimia
Simbol bahaya kimia adalah
suatu piktogram berlatar belakang orange dengan garis batas dan gambar berwarna
hitam. Gambar yang terdapat dalam
piktogram umumnya menggambarkan sifat bahaya dari bahan yang dilabeli. Sifat
bahaya tersebut misalnya risiko ledakan dan kebakaran, risiko kesehatan dan
keracunan, atau kombinasi keduanya.
Berikut ini 7 simbol
bahan kimia berbahaya lengkap dengan gambar dan keterangannya.
1. Explosive (Mudah Meledak)
Bahan kimia yang diberi
simbol seperti gambar disamping adalah bahan yang mudah meledak (explosive).
Ledakan pada bahan tersebut bisa terjadi karena beberapa penyebab, misalnya
karena benturan, pemanasan, pukulan, gesekan, reaksi dengan bahan kimia lain,
atau karena adanya sumber percikan api. Ledakan pada bahan kimia dengan simbol
ini kadang kali bahkan dapat terjadi meski dalam kondisi tanpa oksigen.
Beberapa contoh bahan kimia dengan sifat explosive misalnya TNT, ammonium
nitrat, dan nitroselulosa. Bekerja dengan bahan kimia yang mudah meledak
membutuhkan pengalaman praktis sekaligus pengetahuan. Menghindari hal-hal yang
dapat memicu ledakan sangat penting dilakukan untuk mencegah risiko fatal bagi
keselamatan diri.
2. Oxidizing (Mudah Teroksidasi)
Bahan kimia yang diberi
simbol seperti gambar di samping adalah bahan kimia yang bersifat mudah menguap
dan mudah terbakar melalui oksidasi (oxidizing). Penyebab terjadinya kebakaran
umumnya terjadi akibat reaksi bahan tersebut dengan udara yang panas, percikan
api, atau karena raksi dengan bahan-bahan yang bersifat reduktor. Bekerja
dengan bahan kimia oxidizing membutuhkan pengetahuan dan pengalaman praktis.
Jika tidak, risiko kebakaran akan sangat mungkin terjadi. Adapun beberapa
contoh bahan kimia dengan sifat ini misalnya hidrogen peroksida dan kalium
perklorat. Bila suatu saat Anda bekerja dengan kedua bahan tersebut, hindarilah
panas, reduktor, serta bahan-bahan mudah terbakar lainnya. Frase-R untuk bahan
pengoksidasi : R7, R8 dan R9.
3. Flammable (Mudah Terbakar)
Simbol bahan kimia di
samping menunjukan bahwa bahan tersebut besifat mudah terbakar (flammable).
Bahan mudah terbakar dibagi menjadi 2 jenis yaitu Extremely Flammable (amat
sangat mudah terbakar) dan Highly Flammable (sangat mudah terbakar. Bahan
dengan label Extremely Flammable memiliki titik nyala pada suhu 0 derajat
Celcius dan titik didih pada suhu 35 derajat Celcius. Bahan ini umumnya berupa
gas pada suhu normal dan disimpan dalam tabung kedap udara bertekanan tinggi.
Frase-R untuk bahan amat sangat mudah terbakar adalah R12. Bahan dengan label
Highly Flammable memiliki titik nyala pada suhu 21 derajat Celcius dan titik
didih pada suhu yang tak terbatas. Pengaruh kelembaban pada terbakar atau
tidaknya bahan ini sangat besar. Oleh karena itu, mereka biasanya disimpan pada
kondisi kelembaban tinggi. Frase-R untuk bahan sangat mudah terbakar yaitu R11.
Adapun beberapa contoh bahan bersifat flammable dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
1. Zat terbakar langsung.
Contohnya : aluminium alkil fosfor. Keamanan : hindari kontak bahan dengan
udara.
2. Gas amat mudah terbakar.
Contohnya : butane dan propane. Keamanan : hindari kontak bahan dengan udara
dan sumber api.
3. Cairan mudah terbakar.
Contohnya: aseton dan benzene. Keamanan : jauhkan dari sumber api atau loncatan
bunga api.
4. Zat sensitive terhadap air,
yakni zat yang membentuk gas mudah terbakar bila kena air atau api.
4. Toxic (Beracun)
Simbol bahan kimia disamping mengunjukan bahwa bahan tersebut adalah bahan beracun. Keracunan yang bisa diakibatkan bahan kimia tersebut bisa bersifat akut dan kronis, bahkan bisa hingga menyebabkan kematian pada konsentrasi tinggi. Keracunan karena bahan dengan simbol di atas bukan hanya terjadi jika bahan masuk melalui mulut. Ia juga bisa meracuni lewat proses pernafasan (inhalasi) atau melalui kontak dengan kulit. Beberapa contoh bahan kimia bersifat racun misalnya arsen triklorida dan merkuri klorida. Bekerja dengan bahan-bahan tersebut harus memperhatikan keselamatan diri. Hindari kontak langsung dengan kulit, menelan, serta gunakan selubung masker untuk mencegah uapnya masuk melalui pernafasan.
5. Harmful Irritant (Bahaya Iritasi)
Simbol bahan kimia disamping sebetulnya terbagi menjadi 2 kode, yaitu kode Xn dan kode Xi. Kode Xn menunjukan adanya risiko kesehatan jika bahan masuk melalui pernafasan (inhalasi), melalui mulut (ingestion), dan melalui kontak kulit, contoh bahan dengan kode Xn misalnya peridin. Sedangkan kode Xi menunjukan adanya risiko inflamasi jika bahan kontak langsung dengan kulit dan selaput lendir, contoh bahan dengan kode Xi misalnya ammonia dan benzyl klorida. Frase-R untuk bahan berkode Xn yaitu R20, R21 dan R22, sedangkan untuk kode Xi yaitu R36, R37, R38 dan R41.
6. Corrosive (Korosif)
Simbol bahan kimia di samping menunjukan bahwa suatu bahan tersebut bersifat korosif dan dapat merusak jaringan hidup. Karakteristik bahan dengan sifat ini umumnya bisa dilihat dari tingkat keasamaannya. pH dari bahan bersifat korosif lazimnya berada pada kisaran < 2 atau >11,5. Beberapa contoh bahan dengan simbol ini misalnya belerang oksida dan klor. Jangan menghirup uap dari bahan ini, jangan pula membuatnya kontak langsung dengan mata dan kulit Anda. Mereka juga bisa menyebabkan iritasi. Frase-R untuk bahan korosif yaitu R34 dan R35.
7. Dangerous for Enviromental (Bahan Berbahaya bagi
Lingkungan)
Simbol bahan kimia pada gambar di samping menunjukan bahwa bahan tersebut berbahaya bagi lingkungan (dangerous for environment). Melepasnya langsung ke lingkungan, baik itu ke tanah, udara, perairan, atau ke mikroorganisme dapat menyebabkan kerusakan ekosistem. Beberapa contoh bahan dengan simbol ini misalnya tetraklorometan, tributil timah klorida, dan petroleum bensin. Frase-R untuk bahan berbahaya bagi lingkungan yaitu R50, R51, R52 dan R53. Demikianlah 7 simbol bahan kimia lengkap dengan keterangan dan gambarnya. Semoga bisa menjadi pengetahuan baru yang bermanfaat bagi keselamatan Anda suatu saat nanti (dba).
Jenis Bahan Kimia
Mudah Terbakar
Bahan Kimia Zat Terbakar
Langsung
Bahan kimia mudah terbakar contohnya yang
pertama adalah zat yang bisa terbakar langsung. Bahan kimia yang mudah terbakar
bereaksi langsung dengan oksigen di udara dan menghasilkan panas tinggi.
Contohnya adalah hidrogen (H2), gas yang sangat mudah terbakar dan mudah
meledak. Penanganan bahan kimia mudah terbakar ini harus dilakukan dengan
hati-hati agar tidak menyebabkan risiko yang membahayakan.
Gas yang Mudah Terbakar
Gas termasuk salah satu bahan kimia
laboratorium yang mudah terbakar. Gas juga ditemukan dalam aktivitas
sehari-hari berupa gas LPG untuk memasak. Ada beberapa jenis gas yang mudah terbakar
apabila tercampur dengan udara dalam kadar tertentu dan tersulut api. Contohnya
antara lain:
- Propana (C3H8). Propana adalah gas hidrokarbon yang
digunakan dalam kompor gas rumah tangga dan LPG. Disimpan dalam bentuk
cair di bawah tekanan, propana mudah terbakar dan efisien menghasilkan
panas, sehingga penanganannya harus hati-hati untuk mencegah kebakaran
- Butana (C4H10). Butana, gas hidrokarbon dalam gas
elpiji, digunakan untuk kompor portabel dan alat pemanas. Disimpan dalam
tabung bertekanan rendah, butana mudah terbakar dan memerlukan penanganan
yang hati-hati untuk menghindari kebakaran
- Metana (CH4). Metana, gas hidrokarbon utama dalam gas
alam, digunakan sebagai bahan bakar untuk listrik dan pemanas. Mudah
terbakar dan efisien, metana memerlukan penanganan tepat untuk mengurangi
risiko kebakaran dan dampak lingkungan.
Penyimpanan bahan kimia mudah terbakar di
atas perlu dilakukan sesuai dengan ketentuan. Apabila kamu sering beraktivitas
dengan gas-gas di atas, sangat direkomendasikan untuk menyiapkan alat pemadam api ringan seperti cairan pemadam api untuk
mencegah risiko terjadinya kebakaran.
Cairan yang Mudah Terbakar
Cairan mudah terbakar adalah zat cair yang
memiliki titik nyala rendah, sehingga dapat dengan mudah terbakar saat terkena
sumber panas atau api. Titik nyala adalah suhu terendah di mana cairan
menghasilkan uap yang cukup untuk membentuk campuran yang mudah terbakar dengan
udara. Contohnya antara lain adalah:
Aseton (C3H6O)
Aseton adalah cairan yang sering digunakan sebagai pembersih cat kuku dan pelarut dalam berbagai aplikasi industri dan rumah tangga. Selain itu, aseton juga digunakan dalam proses pembuatan plastik, serat sintetis, dan obat-obatan. Sebagai cairan yang mudah menguap dan terbakar, aseton memerlukan penanganan yang hati-hati untuk mencegah kebakaran.
Bensin (C8H18)
Bensin adalah cairan yang sangat mudah terbakar dan memiliki sifat yang mudah meledak, menjadikannya bahan bakar utama untuk kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor.
Selain digunakan sebagai bahan bakar, bensin
juga digunakan dalam beberapa proses industri sebagai pelarut. Penanganan dan
penyimpanan bensin harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena uapnya dapat
membentuk campuran yang mudah terbakar dengan udara.
Minyak Tanah (C11H24)
Minyak tanah termasuk bahan kimia mudah terbakar yang biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk lampu minyak, kompor, dan pemanas. Minyak tanah memiliki titik nyala yang lebih tinggi dibandingkan dengan bensin, sehingga lebih aman untuk penyimpanan dan penggunaan rumah tangga. Namun, tetap diperlukan kewaspadaan dalam penggunaannya untuk mencegah kebakaran.
Alkohol (C2H5OH)
Alkohol, atau etanol, adalah cairan mudah terbakar yang ditemukan dalam berbagai jenis minuman beralkohol dan digunakan sebagai bahan bakar nabati. Etanol juga digunakan sebagai pelarut dalam industri farmasi dan kosmetik. Karena sifatnya yang mudah terbakar, penyimpanan dan penggunaan alkohol harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah terjadinya kebakaran.
Zat yang Sensitif terhadap Air
Zat-zat seperti natrium (Na) dan kalium (K)
adalah logam yang sangat reaktif, terutama saat bersentuhan dengan air. Kedua
logam ini bereaksi keras dengan air, menghasilkan panas yang tinggi dan gas
hidrogen, yang dapat menyebabkan ledakan. Natrium, yang dikenal karena
reaktivitasnya yang tinggi, langsung bereaksi dan menghasilkan nyala api.
Kalium bahkan lebih reaktif daripada natrium,
dengan reaksinya yang lebih eksplosif saat terkena air. Karena sifat-sifat ini,
penanganan natrium dan kalium memerlukan tindakan pencegahan yang ketat untuk
menghindari kontak dengan air dan mencegah potensi kebakaran atau ledakan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering
berinteraksi dengan bahan kimia mudah terbakar seperti hidrogen, gas LPG
(propana, butana, metana), cairan seperti aseton, bensin, minyak tanah,
alkohol, serta zat yang sensitif terhadap air seperti natrium dan kalium.
Penanganan dan penyimpanan bahan-bahan ini memerlukan kewaspadaan tinggi untuk
mencegah kebakaran atau ledakan. Selalu siapkan alat pemadam kebakaran untuk
mengurangi risiko kecelakaan
Selain memahami cara penanganan yang tepat
untuk setiap zat kimia, jangan lupa bekali diri dan orang-orang di sekitarmu
tentang cara menggunakan alat pemadam kebakaran termasuk cara isi ulang alat
pemadam api ringan hingga masa kadarluasa alat pemadam api yang
ada di rumah/gedungmu. Pemahaman ini dapat membantu menghindarkanmu dari risiko
kebakaran yang merugikan.
Butuh perlengkapan pemadam termasuk alat pemadam api berat termasuk fire hydrant hingga alat pemadam api thermatic?
Sahabat Utama Suksesindo sebagai importir alat pemadam kebakaran siap
menyediakannya untukmu.
BAHAN KIMIA BERACUN, BAHAYA, MELEDAK, DAN TERBAKAR
Selain bahan kimia yang memang bermanfaat
bagi manusia untuk memenuhi beragam kebutuhannya, banyak juga bahan kimia yang
justru membahayakan.
Hal inilah yang menyebabkan biasanya pada
setiap kemasan bahan kimia sudah terdapat tingkat bahayanya dan bagaimana cara
penanganannya, sebelum menggunakan bahan tersebut sebaiknya kita memahami cara
perlakuan bahan tersebut.
Contoh Bahan Kimia:
Contoh-contoh dalam simbul bahan
kimia beracun, berbahaya, mudah meledak, dan mudah terbakar, antara lain:
Hidrogen Sianida
Hidrogen sianida kadang-kadang disebut asam
prussat, adalah senyawa kimia yang merupa cairan yang tidak berwarna, sangat
beracun dan mudah terbakar yang mendidih sedikit di atas suhu kamar, pada suhu
25,6°C (78,1°F).
Hidrogen sianida digunakan secara komersial
untuk fumigasi, pelapisan listrik, penambangan, sintesis kimia, dan produksi
serat sintetis, plastik, pewarna, dan pestisida.
Ini memiliki efek seluruh tubuh (sistemik),
terutama yang mempengaruhi sistem organ yang paling sensitif terhadap kadar
oksigen rendah: sistem saraf pusat (otak), sistem kardiovaskular (jantung dan
pembuluh darah), dan sistem paru (paru-paru).
Hidrogen Sulfida
Hidrogen sulfida adalah gas yang mudah
terbakar dan tidak berwarna yang berbau seperti telur busuk. Orang biasanya
dapat mencium bau hidrogen sulfida pada konsentrasi rendah di udara, mulai dari
0,0005 hingga 0,3 bagian per juta (ppm) (0,0005-0,3 bagian hidrogen sulfida
dalam 1 juta bagian udara).
Pada konsentrasi tinggi, seseorang mungkin
kehilangan kemampuan untuk menciumnya. Ini karena seseorang mungkin secara
keliru berpikir bahwa hidrogen sulfida tidak lagi ada; ini dapat meningkatkan
risiko pajanan mereka ke tingkat udara yang dapat menyebabkan efek kesehatan
yang serius.
Hidrogen sulfida terjadi baik secara alami
maupun dari proses buatan manusia. Itu berada di gas dari gunung berapi, mata
air belerang, ventilasi bawah laut, rawa-rawa, dan genangan air dan dalam
minyak bumi mentah dan gas alam.
Hidrogen Peroksida
Hidrogen peroksida adalah peroksida anorganik
yang terdiri dari dua kelompok hidroksi yang bergabung dengan ikatan tunggal
oksigen-oksigen kovalen. Ini digunakan sebagai zat pemutih dan antiseptic.
Biasanya untuk memutihkan rambut dan gigi kami, tetapi di pabrik-pabrik
digunakan untuk memutihkan kertas, mensterilkan mesin, dan memproduksi papan
sirkuit cetak.
Hidrogen peroksida bersifat korosif sehingga
dapat menyebabkan kerusakan mata yang ireversibel; luka bakar kaustik ke
tenggorokan dan paru-paru hidung; serta lepuh, perdarahan dan kerusakan pada
saluran pernapasan dan perut.
Risin
Risin, sebuah lektin (protein pengikat
karbohidrat) yang diproduksi dalam biji tanaman minyak jarak, Ricinus communis,
adalah racun yang sangat kuat. Dosis bubuk risin murni seukuran beberapa butir
garam meja dapat membunuh manusia dewasa.
Dosis median letal (LD50) risin adalah
sekitar 22 mikrogram per kilogram berat badan jika paparannya dari injeksi atau
inhalasi (2 miligram untuk rata-rata orang dewasa). Paparan oral terhadap risin
jauh lebih sedikit toksik karena beberapa racun tidak aktif dalam lambung.
Diperkirakan dosis oral mematikan pada manusia adalah sekitar 1 miligram per
kilogram.
Arsenik
Arsenik adalah metalloid elemen alami yang
sebenarnya bukan logam tetapi yang memiliki beberapa sifat logam. Ini adalah
komponen alami dari kerak bumi, umumnya ditemukan dalam pada semua batu, tanah,
air dan udara. Namun, konsentrasi mungkin lebih tinggi di area tertentu karena
kondisi alam atau aktivitas manusia.
Penambangan, peleburan logam, dan pembakaran bahan
bakar fosil adalah proses industri utama yang berkontribusi terhadap
kontaminasi arsenik terhadap udara, air, dan tanah. Penggunaan pestisida yang
mengandung arsenik di masa lalu telah menyebabkan area pertanian yang luas
terkontaminasi. Penggunaan arsenik dalam pelestarian kayu juga menyebabkan
pencemaran lingkungan.
Merkuri
Merkuri adalah contoh kimia
unsur yang terjadi secara alami yang ditemukan dalam batuan di kerak bumi,
termasuk dalam endapan batubara. Pada tabel periodik, ia memiliki simbol “Hg”
dan nomor atomnya adalah 80.
Ada dalam beberapa bentuk unsur (logam)
merkuri, senyawa merkuri anorganik, dan metilmerkuri dan senyawa organik
lainnya. Merkuri digunakan dalam termometer lama, bola lampu neon dan beberapa
sakelar listrik.
Paparan merkuri – bahkan dalam jumlah kecil –
dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, dan merupakan ancaman bagi
perkembangan anak dalam kandungan dan di awal kehidupan. Merkuri dapat memiliki
efek toksik pada sistem saraf, pencernaan dan kekebalan tubuh, dan pada
paru-paru, ginjal, kulit dan mata.
Formaldehida
Formaldehida adalah gas yang tidak berwarna
dan berbau kuat yang digunakan dalam pembuatan bahan bangunan dan banyak produk
rumah tangga. Ini digunakan dalam produk kayu tekan, seperti papan partikel,
kayu lapis, dan papan serat; lem dan perekat; kain pers permanen; pelapis
produk kertas; dan bahan isolasi tertentu. Itu juga digunakan untuk membuat
bahan kimia lainnya.
Mengingat penggunaannya yang luas,
toksisitas, dan volatilitas, formaldehyde menimbulkan bahaya yang signifikan
bagi kesehatan manusia. Pada tahun 2011, Program Toksikologi Nasional AS
menggambarkan formaldehida sebagai “yang dikenal sebagai karsinogen manusia”.
Halogen
Halogen adalah grup dalam tabel periodik yang
terdiri dari lima elemen yang berhubungan secara kimiawi: fluorin (F), klorin
(Cl), bromin (Br), yodium (I), dan astatin (At). Nama “halogen” berarti
“penghasil garam”. Halogen cenderung menurun toksisitas terhadap halogen
yang lebih berat.
Misalnya Gas klor sangat beracun. Menghirup
klorin dengan konsentrasi 3 bagian per juta dapat dengan cepat menyebabkan
reaksi toksik. Menghirup klorin dengan konsentrasi 50 ppm sangat berbahaya.
Menghirup klorin dengan konsentrasi 500 bagian per juta selama beberapa menit
adalah mematikan.
Sedangkan, Brom agak beracun, tetapi kurang
toksik daripada fluor dan klorin. 100 miligram brom sangat mematikan. Anion
bromida juga beracun, tetapi kurang sehingga bromin. Bromide memiliki 30 gram
mematikan.
Acrilonitrile
Acrilonitrile adalah nitril yang merupakan
hidrogen sianida di mana hidrogen telah digantikan oleh gugus etenil. Ini
memiliki peran sebagai agen karsinogenik, agen antijamur, metabolit jamur,
pelarut aprotik polar dan mutagen. Ini adalah nitril alifatik dan senyawa
organik yang mudah menguap.
Akan tetapi potensi bahaya yang ditimbulkan
jika terpapar dengan bahan kimia yang satu ini yaitu dapat berakibat fatal jika
terhirup, diserap melalui kulit atau tertelan; uap mengiritasi mata dan saluran
pernapasan; konsentrasi uap yang tinggi dapat menyebabkan sakit kepala, mual,
pusing, kantuk, inkoordinasi, dan kebingungan.
Eksposur yang lebih parah dapat menyebabkan
perubahan warna kebiruan pada kulit, keruntuhan dan kematian; Menyebabkan
iritasi kulit dan mata yang parah; Potensi bahaya kanker – menyebabkan kanker
berdasarkan pada informasi hewan.
Etile Oksida
Etilen oksida adalah gas yang mudah terbakar
dengan bau yang agak manis. Mudah larut dalam air. Etilen oksida adalah bahan
kimia buatan manusia yang digunakan terutama untuk membuat etilen glikol (bahan
kimia yang digunakan untuk membuat antibeku dan poliester).
Sejumlah kecil (kurang dari 1%) digunakan
untuk mengendalikan serangga di beberapa produk pertanian yang disimpan dan
sejumlah kecil digunakan di rumah sakit untuk mensterilkan peralatan dan persediaan
medis.
Akan tetapi, dalam jumlah yang berlebihan
dapat membahayakan diantaranya yaitu bisa fatal jika dihirup; mengiritasi
saluran pernapasan; Depresan sistem saraf pusat. Konsentrasi tinggi dapat
menyebabkan sakit kepala, mual, pusing, kantuk, serta dapat menyebabkan kanker.
Kromium
Kromium merupakan logam transisi baja,
abu-abu, berkilau, keras dan rapuh. Kromium adalah aditif utama dalam stainless
steel, yang menambahkan sifat anti-korosif, sehingga kegunaan utamanya adalah
dalam paduan seperti stainless steel, dalam pelapisan krom dan keramik logam.
Orang dapat terpapar kromium melalui
pernapasan, makan atau minum dan melalui kontak kulit dengan senyawa kromium.
Beberapa bahaya yang ditumbulkan diantaranya yaitu ruam kulit; sakit perut,
bisul; masalah pernapasan; sistem kekebalan tubuh yang melemah; kerusakan
ginjal dan hati; perubahan materi genetic; kanker paru-paru.
Asbes
Asbes adalah bahan alami yang tahan terhadap
paparan api, suara, air, dan bahan kimia. Ini terdiri dari jutaan serat, yang
mengikat bersama untuk membuat bahan yang ringan namun hampir tidak bisa
dihancurkan.
Asbes ditambang dari deposit alami di seluruh
dunia. Setelah dikeluarkan dari tanah, itu diproses dan dikembangkan menjadi
bahan industri. Deposit asbes secara alami dapat ditemukan di negara-negara
seperti Amerika Serikat, Cina, Rusia, dan Amerika Selatan.
Cara paling umum untuk serat asbes memasuki
tubuh adalah melalui pernapasan. Faktanya, material yang mengandung asbes
umumnya tidak dianggap berbahaya kecuali mengeluarkan debu atau serat ke udara
tempat mereka dapat dihirup atau dicerna.
Etil Eter
Etil eter, juga disebut dietil eter, anestesi
terkenal, yang biasa disebut eter sederhana, senyawa organik yang termasuk
dalam kelompok besar senyawa yang disebut eter. Etil eter adalah cairan tidak
berwarna, mudah menguap, mudah terbakar (titik didih 34,5° C [94,1°F]) dengan
aroma yang kuat dan khas serta rasa panas dan manis.
Ini adalah pelarut yang banyak digunakan
untuk bromin, yodium, sebagian besar zat berlemak dan resin, minyak atsiri,
karet murni, dan alkaloid nabati tertentu. Ini adalah cairan yang mudah
terbakar dan tidak berwarna. Ini umumnya digunakan sebagai pelarut di
laboratorium dan sebagai cairan awal untuk beberapa mesin.
Bensin (Gasolin)
Bensin atau gasoline merupakan campuran
hidrokarbon cair yang mudah menguap yang berasal dari minyak bumi dan digunakan
sebagai bahan bakar untuk mesin pembakaran internal.
Bensin adalah zat berbahaya karena sangat
mudah terbakar dan berbahaya bagi kesehatan kita, berpotensi menyebabkan
kerusakan pada kulit dan mata, serta pusing, masalah pernapasan, kerusakan
paru-paru dan kanker. Menangani dan menyimpan bensin dengan aman sangat
penting.
Itu harus ditandai dengan jelas sebagai
cairan yang mudah terbakar dan disimpan di tempat yang sejuk, berventilasi baik
dalam wadah yang dirancang khusus. Uap dari bensin dapat dengan cepat
menyebabkan kebakaran atau ledakan sehingga area pengeluaran harus benar-benar
ditetapkan sebagai DILARANG MEROKOK dan jauh dari panas dan sumber penyulut
lainnya.
Amonia
Amonia adalah azana yang terdiri dari atom
nitrogen tunggal yang terikat secara kovalen dengan tiga atom hidrogen. Ammonia
adalah salah satu bahan kimia industri dan pembersih yang paling umum digunakan
di dunia.
Itu juga sangat mudah terbakar, korosif dan
beracun bagi tubuh manusia kita. Paparan amonia menyebabkan terbakar langsung
ke mata, hidung dan tenggorokan. Ini dapat menyebabkan kebutaan, kerusakan
paru-paru dan kematian.
Aseton
Aseton adalah metil keton yang terdiri dari
propana yang mengandung gugus okso di C2. Ini memiliki peran sebagai pelarut
aprotik polar, metabolit manusia dan inhibitor EC 3.5.1.4 (amidase). Aseton
digunakan sebagai bahan utama dalam penghapus cat kuku, pengencer cat, enamel,
dan resin.
Aseton adalah barang berbahaya yang sangat
mudah terbakar yang harus digunakan dan disimpan jauh dari panas, percikan api,
nyala api, dan penumpukan listrik statis. Itu juga harus dijauhkan dari gas dan
pengoksidasi yang mudah terbakar.
Aseton adalah iritasi pada kulit dan mata kita.
Uap yang tertelan oleh tubuh dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, mengantuk,
penglihatan kabur, dan kelelahan sementara paparan jangka panjang dapat
menyebabkan kerusakan hati dan organ.
Benzene
Benzene adalah annulene aromatik enam karbon
di mana setiap atom karbon menyumbangkan satu dari dua elektron 2p nya ke dalam
sistem pi yang terdelokalisasi. Ini merupakan produk sampingan cair beracun
yang mudah terbakar dari distilasi batubara, digunakan sebagai pelarut
industri.
Benzene adalah karsinogen yang juga merusak
sumsum tulang dan sistem saraf pusat. Ini memiliki peran sebagai pelarut
non-polar, agen karsinogenik dan kontaminan lingkungan. Ini adalah annulene
aromatik, senyawa organik yang mudah menguap dan anggota benzen.
Kadmium
Kadmium dalam bentuk unsurnya merupakan logam
lunak, perak-putih. Biasanya tidak hadir dalam lingkungan sebagai logam murni,
tetapi paling sering sebagai oksida kompleks, sulfida, dan karbonat dalam bijih
seng, timah, dan tembaga.
Kadmium diproduksi terutama sebagai produk
sampingan dari penambangan, peleburan dan pemurnian seng dan, pada tingkat yang
lebih rendah, sebagai produk sampingan dari produksi timah dan tembaga.
Kadmium bukanlah unsur yang digunakan oleh
tubuh, karena itu beracun, terutama mempengaruhi ginjal dan tulang. Ini
juga merupakan karsinogen jika terhirup. Kadmium dapat terakumulasi di dalam,
hati, ginjal dan tulang, yang dapat berfungsi sebagai sumber pajanan di
kemudian hari. Di lingkungan, kadmium beracun bagi tanaman, hewan, dan
mikroorganisme.
Nitrogliserin
Nitrogliserin, juga dikenal sebagai
nitrogliserin, trinitrogliserin (TNG), nitro, gliseril trinitrat (GTN), atau
1,2,3-trinitroxypropane, adalah cairan padat, tidak berwarna, berminyak, bahan
peledak yang paling umum diproduksi oleh nitrat gliserol dengan asam nitrat
putih berasap dalam kondisi yang sesuai untuk pembentukan ester asam nitrat.
Diciptakan pada tahun 1847, nitrogliserin
telah digunakan sebagai bahan aktif dalam pembuatan bahan peledak, sebagian
besar dinamit, dan karena itu digunakan dalam industri konstruksi,
pembongkaran, dan pertambangan. Sejak tahun 1880-an, telah digunakan oleh
militer sebagai bahan aktif, dan gelatinizer untuk nitroselulosa, dalam
beberapa propelan padat, seperti cordite dan ballistite.
Trinitrotoluene (TNT)
TNT adalah padatan kuning dan pertama kali
diproduksi sebagai pewarna pada tahun 1863. Ia tidak meledak secara spontan dan
sangat mudah dan nyaman untuk ditangani, sehingga sifat eksplosifnya hanya
ditemukan sekitar 30 tahun kemudian oleh ahli kimia Jerman Carl Häussermann
pada tahun 1891.
TNT bahkan dapat dicairkan dan dituangkan ke
dalam bejana, tetapi itu akan meledak dengan bantuan detonator – dan dengan
kekuatan yang besar, karena kelompok nitro dalam molekul dengan cepat berubah
menjadi gas nitrogen.
Ini membuatnya ideal untuk digunakan dalam
pembongkaran terkontrol, di mana bahan peledak dapat ditanam dan diledakkan
ketika direncanakan (misalnya oleh penambang), menjadikannya bahan peledak yang
relatif “aman”. Itu juga digunakan sebagai “ukuran standar” untuk bom, sehingga
“ledakan” bahan kimia lainnya sering diukur relatif terhadap TNT.
Nah, itulah tadi serangkain artikel yang
sudah kami tuliskan secara lengkap kepada segenap pembaca terkait dengan
beragam contoh-contoh bahan kimia yang beracun, bahaya, mudah meledak, dan
mudah terbakar.
4 Contoh Bahan Kimia Mudah Terbakar
Contoh Bahan Kimia
Mudah Terbakar
bahan kimia yang mudah terbakar dapat berwujud gas, cairan yang
mudah menguap atau bahan padat berbentuk debu yang dapat meledak jika tercampur
dengan udara sekitar.
Bahan mudah terbakar
sendiri terbagi menjadi 2 jenis yaitu Extremely
Flammable atau amat sangat mudah terbakar dan Highly Flammable atau sangat mudah
terbakar.
Extremely
Flammable memiliki titik nyala pada suhu 0 derajat celcius dan
titik didihnya pada suhu 35 derajat celcius. Sedangkan Highly Flammable memiliki titik nyala
pada suhu 21 derajat celcius dan titik didih dengan suhu yang tidak terbatas
Dari penjelasan di
atas, menjadikan perlu adanya contoh bahan kimia mudah terbakar sebagai
referensi ketika menggunakan bahan kimia. Berikut ini, contoh bahan kimia mudah
terbakar.
1. Zat yang dapat
Terbakar Langsung
Contoh zat yang dapat
terbakar langsung yaitu aluminium alkil fosfor, Zat tersebut dapat dicegah
terbakarnya dengan menghindari kontak dengan udara.
2. Gas Sangat Mudah
Terbakar
Contoh gas sangat mudah
terbakar yaitu butane dan propane. Terbakarnya gas ini dapat dicegah dengan
menghindari kontak dengan udara dan sumber api.
3. Cairan Mudah
Terbakar
Contoh cairan mudah
terbakar yaitu aseton dan benzene. Cairan ini dapat dicegah terbakarnya dengan
menjauhkan dengan sumber api atau loncatan bunga api.
4. Zat Sensitif
Terhadap Air
Zat ini merupakan zat
yang mampu membentuk gas yang mudah terbakar jika terkena air atau api.
Seringkali kita melihat kemasan atau area
penyimpanan bahan kimia dengan keterangan “Mudah Terbakar”. Istilah bahan kimia
mudah terbakar ini biasa disebut juga dengan flammable. Bahan
kimia mudah terbakar termasuk dalam kategori bahan kimia B3 (Bahan Berbahaya
dan Beracun). Sudah banyak contoh kasus kebakaran dan ledakan yang disebabkan
oleh bahan kimia ini.
Salah satu sumber kebakaran oleh bahan kimia
berbahaya biasanya berasal dari faktor penyimpanan. Untuk memahami cara
penyimpanan yang aman, perlu diketahui terlebih dahulu sifat dan cara mengatasi
reaksi kimia akibat interaksi dari bahan yang disimpan. Bahan kimia terbagi
atas wujud larutan, padat, dan gas. Semua wujud tersebut memiliki peluang yang
sama untuk menyebabkan terjadinya kebakaran, tentunya tergantung pada suhu,
temperatur, dan situasi kondisi.
Apa itu bahan kimia mudah terbakar?
Bahan kimia yang mudah terbakar atau disebut
juga flammable adalah bahan kimia yang mudah bereaksi
dengan oksigen sehingga menimbulkan api atau kebakaran. Kebakaran terjadi bila
ada unsur bahan, oksigen, dan panas yang bertemu. Bahan mudah terbakar
dibagi menjadi 2 jenis yaitu higly flammable (sangat
mudah terbakar) dan extremly flammable (amat
sangat mudah terbakar).
Bahan dengan label highly flammable memiliki pengaruh terhadap
kelembapan sehingga disimpan pada kondisi kelembapan yang tinggi. Sedangkan
bahan dengan label extremly flammable umumnya
berupa gas pada suhu normal dan disimpan dalam tabung kedap udara bertekanan
tinggi.
·
Adapun
beberapa contoh bahan kimia bersifat flammable diklasifikasikan
sebagai berkut :
·
Zat
terbakar langsung (Alumunium, alkil, dan fosfor). Hindari kontak dengan udara.
·
Gas
amat mudah terbakar (Butane dan propane). Hindari kontak dengan udara dan
sumber api
·
Cairan
mudah terbakar (Aseton dan benzene). Jauhkan dari sumber api atau loncatan
bunga api.
·
Zat
sensitive terhadap air, yaitu zat yang membentuk gas mudah terbakar bila kena
air atau api.
Dampak yang dapat ditimbulkan
Kebakaran dapat terjadi bila bahan kimia yang
mudah terbakar berkontak dengan sumber panas. Sumber panas dapat berupa api
terbuka, logam panas, bara api, dan loncatan listrik. Kebakaran juga dapat menimbulkan
ledakan dahsyat dan menghasilkan bahan baru yang bersifat racun. Itulah mengapa
penting untuk mengetahui penyebab reaksi kimia akibat interaksi dari
bahan-bahan yang disimpan.
Interaksi dapat berupa Interaksi antara bahan
dan lingkungan dan Interaksi antar bahan. Interaksi antara bahan dan lingkungan
contohnya seperti panas/percikan api yang dapat menimbulkan kebakaran dan
ledakan terutama untuk zat yang mudah terbakar dan mudah meledak seperti
pelarut organik dan peroksida. Sedangkan interaksi antar bahan yaitu seperti
interaksi antara zat oksidator dan reduktor yang dapat menimbulkan ledakan dan
kebakaran. Oleh karena itu beberapa bahan yang dapat bereaksi harus dipisahkan
dalam penyimpanannya.
Cara mengatasi bahan kimia mudah terbakar
Dalam laboratorium, penyimpanan zat dan bahan
kimia merupakan strategi yang dilakukan untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Setiap bahan memiliki sifat yang berbeda. Maka, dalam penyimpanan bahan kimia
ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti aspek pemisahan, tingkat
resiko bahaya, pelabelan, fasilitas penyimpanan, wadah sekunder, bahan
kadaluarsa, inventarisasi, dan informasi resiko bahaya itu sendiri.
Bahan kimia mudah terbakar tidak boleh
disimpan dengan bahan kimia lain dan harus disimpan secara khusus dalam wadah
sekunder terisolasi yang jauh dari bahan oksidator, sumber api atau panas,
termasuk loncatan api listrik dan bara. Hal ini dilakukan untuk mencegah
pencampuran dengan sumber bahaya lain seperti api, gas beracun, dan ledakan.
Tempat penyimpanan juga harus berada di ruangan dengan termperatur dingin dan
berventilasi. Tak lupa sediakan pula alat pemadam kebakaran pada ruangan
tersebut.
18 Simbol Bahan Kimia
Beserta Arti & Klasifikasinya
Penggunaan
simbol kimia dalam pelebelan bahan kimia sesuai karakteristik berbeda-beda.
Bahan kimia merupakan senyawa yang memiliki karakteristik dimana berdasarkan
fasanya berwujud cair, gas, dan padat. Dengan sifat dan konsentrasi yang
dimiliki, bahan kimia dapat mencemari lingkungan hidup maupun merusak kesehatan
manusia.
Simbol Bahan Kimia
Berikut
gambar simbol-simbol bahan kimia perlu diketahui
1. Simbol Bahan Kimia : Irritant (Iritasi)
Bahan atau senyawa kimia dengan lambang “Xi” adalah bahan yang dapat menyebabkan inflamasi apabila kontak langsung dengan selaput lendir atau kulit. Meskipun dapat menyebabkan inflamasi tetapi bahan kimia ini tidak bersifat korosif. Efek yang ditimbulkan seperti gatal-gatal hingga luka bakar kecil pada kulit.
Oleh
karena itu, diperlukan pencegahan dengan menggunakan masker dan sarung tangan.
Berikut contoh bahan kimia Irritant:
- Kalsium
Klorida
- Natrium
Hidroksida
- Toluena
- Isobutanol
- Isopropilamina
2. Simbol Bahan Kimia : Harmfulness (Berbahaya)

Bahan
kimia berlambangkan “Xn” memiliki formula yang dapat merusak kesehatan pada
tingkat sedang apabila masuk ke dalam tubuh melalui mulut, sistem inhalasi, dan
kontak dengan kulit.
Hindari
kontak langsung dan jangan sampai terhirup, tertelan, atau tersentuh kulit.
Adapun contoh-contoh bahan kimia Harmful:
- Ethanolamine
- Methenamine
- Asam
sulfat
3. Simbol Bahan Kimia : Toxic (Beracun)
Formulasi yang terkandung pada bahan kimia ini dilambangkan dengan “T”, dimana dapat menyebabkan efek kerusakan kesehatan yang akut bahkan kematian meskipun terjadi kontak (melalui hidung, kulit, dan mulut) dalam konsentrasi yang rendah. Contoh bahan kimia beracun / toxic antara lain:
- Metanol
- Benzena
4. Simbol Bahan Kimia :Very Toxic (Sangat Beracun)
Bahan
kimia yang dilambangkan dengan “T+” memiliki sifat yang sangat beracun. Mampu
menyebabkan sakit kronis hingga kematian apabila kontak langsung dengan tubuh
maupun sistem pernafasan. Contoh:
- Nitrobenzene
- Kalium
sianida
5. Corrosive (Korosif)
Dengan lambang “C”, bahan kimia ini memiliki sifat korosif dengan nilai pH sebesar < 2 atau > 12.5. Bahan kimia korosif mampu mengiritasi kulit hingga gatal-gatal dan mengelupas serta merusak jaringan hidup. Hindari bahan ini dari kontak langsung dengan kulit. Contoh bahan kimia dengan sifat korosif, yaitu:
- Asam
Klorida
- Natrium
Hidroksida >2%
- Asam
sulfat
- Formic
Acid
6. Highly
Flammable (Mudah Terbakar)
Bahan kimia yang memiliki titik nyala rendah (<21oC) di bawah kondisi tekanan atmosfer. Hindari bahan kimia tersebut dengan benda yang berpotensi mengeluarkan api atau bunga listrik. Berikut contoh-contoh dari bahan mudah terbakar:
- Etanol
- Aseton
- Logam
Natrium
- Solven
7. Extremely
Flammable (Sangat Mudah Terbakar)
Bahan kimia ini dilambangkan dengan “F+” memiliki titik nyala yang sangat rendah yaitu <0oC, titik didih pada suhu
- Diethyl
Ether
- Propane
(Gas)
8. Explosive (Mudah
Meledak)

Bahan
kimia yang mudah meledak apabila terkena benturan, gesekan, pemanasan, sumber
api maupun sumber nyala lainnya. Bahkan tanpa oksigen pun, bahan ini mudah
meledak. Berikut bahan yang mudah meledak atau eksplosif:
- TNT
- NH4NO3
- Butyric
Acid (L)
9. Oxidizing (Mudah
Teroksidasi)
Lambang untuk bahan kimia ini adalah “O”, dimana memiliki sifat yang mudah terbakar apabila kontak langsung dengan bahan-bahan organik atau bahan pereduksi yang mampu menghasilkan panas. Contoh bahan-bahan kimia ini yaitu:
- Hidrogen
Peroksida
- Kalium
Perklorat
- Kalium
Permanganat
- Asam
Nitrat Pekat
10. Dangerous
For the Environment (Berbahaya untuk Lingkungan)
Bahan kimia yang mampu menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan mengganggu keseimbangan ekologi akibat kandungannya yang berbahaya. Lambang untuk bahan kimia ini yaitu “N”. Pencegahan dapat dilakukan dengan membuang bahan tersebut sesuai dengan tempat yang ditentukan dan tidak lupa untuk memisahkannya. Contoh bahan kimia dalam golongan ini:
- Petroleum
hidrokarbon
- Tetraklorometan
- Tributil
Timah Klorida
11. Flammable
Solid (Padatan yang Mudah Terbakar)
Bahan kimia dalam kategori ini berwujud padat dan mudah terbakar. Karakteristik zat kimia ini adalah dapat bereaksi sendiri akibat ketidakstabilannya terhadap panas sehingga proses pencegahannya pun harus dihindarkan dengan panas atau reduktor, kontak dengan air, dan bahan-bahan yang mudah terbakar. Contoh bahan Flammable Solid tersebut yaitu:
- Magnesium
- Sulfur
- Picric
Acid
12. Flammable
Liquid (Cairan yang Mudah Terbakar)
Simbol ini menandakan bahan kimia tersebut mudah terbakar. Bahan-bahan berwujud cair yang mudah terbakar antara lain:
- Aseton
- Benzena
- Petrol
13. Flammable
Gas (Gas yang Mudah Terbakar)
Simbol yang digunakan untuk
menandakan bahan kimia berwujud gas yang mudah terbakar apabila terkena
percikan api maupun panas. Contoh dari bahan ini yaitu:
- LPG
- Hidrogen
- Asetilen
14. Non
Flammable Gas (Gas yang Tidak Mudah Terbakar)
Simbol berikut ini menandakan gas yang tersimpan maupun yang berada di transportasi tidak mudah terbakar, Seperti :
- Oksigen
- Helium
- Nitrogen
15. Dangerous When Wet (Bahaya saat Basah)
Menandakan material atau bahan kimia yang bereaksi cukup sensitif dengan air. Oleh karena itu, dalam penyimpanan dan penggunaannya, keadaan harus dipastikan kering. Bahan-bahan kimia yang memiliki sifat ini yaitu:
- Potassium
Phosphide
- Calcium
Carbide
16. Organic
Peroxide (Peroksida Organik)
Merupakan simbol bahan kimia yang digunakan pada suatu transportasi dan tempat penyimpanan peroksida organik untuk meminimalisir risiko kebakaran akibat sifat bahan kimia yang mudah teroksidasi. Berikut contoh-contoh dari bahan peroksida organik:
- Dicetyl
Perdicarbonate
- Dicetyl
Perdicarbonate
- Methyl
Ethyl Ketone Peroxide
17. Poison (Beracun)
Simbol ini digunakan pada tempat penyimpanan maupun transportasi pengangkut bahan-bahan beracun dalam bentuk gas maupun non gas. Contoh bahan kimia dalam kategori ini:
- Calcium
Cyanide
- Carbon
Tetrachloride
- Chlorine
- Methil
Bromide
18. Radioactive (Radioaktif)
Menandakan adanya pancaran radiasi secara spontan akibat kandungan dari suatu bahan kimia atau campuran dari bahan-bahan lainnya. Radiasi ini dapat menyebabkan perubahan struktur DNA, sel, atau kromosom dalam jangka waktu bulanan atau tahunan. Contoh bahan kimia radioaktif yaitu:
- Tritium
- Uranium
Ketentuan Simbol Bahan Kimia
Penggunaan
simbol harus sesuai dengan standar yang berlaku, dimana dapat dilihat pada
Gambar 1. dan poin-poin dibawah ini:
- Simbol
yang terpasang paling rendah 10 cm x 10 cm, sedangkan untuk pengangkut dan
tempat penyimpanan paling rendah 25 cm x 25 cm
- Dapat
terlihat jelas dari jarak 20 m
- Berbentuk
bujur sangkar yang diputar 45oC atau belah ketupat
- Keempat
sisi belah ketupat dibuat garis sejajar yang menyambung dengan ukuran 95%
dari ukuran terluar
- Warna
garis dalam yang membentuk belah ketupat sama dengan warna gambar simbol
limbah B3
- Bagian
bawah terdapat blok segilima dengan bagian atas datar dan bawah yang
lancip
- Warna
simbol menggunakan car yang dapat berpendar
- Bahan
simbol tahan terhadap bahan kimia, goresan, dan kuat
Sedangkan
untuk simbol-simbol
yang digunakan untuk pengklasifikasian limbah B3 sesuai
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2013
antara lain: mudah meledak, cairan mudah menyala, padatan mudah menyala,
reaktif, beracun, korosif, infeksius, dan berbahaya terhadap perairan.
merupakan proses identifikasi dan kategorisasi sebuah bahan kimia
berdasarkan sifat bahaya yang dimiliki. Bicara mengenai “bahan berbahaya”,
tentu muncul banyak pertanyaan.
Kode atau standar mana yang berlaku untuk
menentukan bahan berbahaya? Berapa banyak bahan berbahaya tertentu yang bisa
disimpan atau digunakan? Dan masih banyak pertanyaan lainnya seputar
klasifikasi bahan berbahaya.
Apa Itu Bahan Berbahaya?
“Hazard” atau bahaya merupakan sumber dan situasi yang berpotensi menyebabkan kerugian atau kecelakaan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka “hazardous material” atau bahan berbahaya merupakan bahan berupa zat cair, padat, atau gas yang bisa merusak dan mecelakakan manusia, benda, serta lingkungan di sekitarnya.
National Fire Protection Association (NFPA) merupakan
organisasi internasional yang menetapkan kode atau standar untuk mengurangi
kematian, cedera, serta kerugian harga benda akibat kebakaran, listrik, dan
bahaya terkait. NFPA telah menetapkan standar mengenai klasifikasi bahan
berbahaya, yaitu NFPA 400: Hazardous Material Code.
Menurut standar NFPA 400, definisi bahan berbahaya adalah
sebagai berikut:
Suatu zat atau bahan kimia yang diklasifikasikan sebagai bahan
berbahaya fisik maupun bahan berbahaya bagi kesehatan. Baik bahan kimia maupun
zat dalam kondisi layak pakai atau limbah.
Klasifikasi bahan berbahaya fisik atau physical hazard material antara
lain:
·
Mudah meledak
·
Gas mudah terbakar
·
Kriogenik yang mudah terbakar
·
Padatan yang mudah terbakar
·
Cairan yang mudah terbakar
·
pengoksidasi
·
Peroksida organik
·
Kriogenik pengoksidasi
·
Tidak stabil (reaktif)
·
Piroforik
·
Bahan yang reaktif terhadap air
Sementara itu, health hazard material atau
bahan berbahaya kesehatan adalah zat atau bahan kimia yang diklasifikasikan
sebagai salah satu dari berikut ini:
·
Beracun
·
Sangat beracun
·
Bahan korosif
Tujuan Identifikasi dan Klasifikasi Hazardous Material
Bahan berbahaya yang digunakan secara tidak tepat bisa menimbulkan akibat yang fatal, seperti terjadinya ledakan dan kebakaran. Untuk mencegah insiden tersebut akibat kesalahan penanganan bahan berbahaya, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan identifikasi terhadap bahan tersebut.
Identifikasi bahan berbahaya adalah upaya
untuk mengklarifikasi dan mengendalikan bahaya serta resiko yang dapat timbul
akibat penggunaan bahan tertentu. Sementara itu, klasifikasi bahan berbahaya
merupakan proses identifikasi dan kategorisasi sebuah bahan kimia berdasarkan
sifat bahaya yang dimiliki.
Tujuan klasifikasi bahan berbahaya adalah
untuk memudahkan pengelolaan yang meliputi penyimpanan, penanganan, serta
pengawasan. Selain itu, klasifikasi bahan berbahaya juga merupakan langkah
preventif awal yang paling esensial dalam rangka pengurangan risiko.
Sistem Klasifikasi Bahan Berbahaya di Dunia
Tantangan dalam mengklasifikasikan bahan
berbahaya adalah tidak ada satu definisi yang konsisten mengenai “hazardous
material”. Pasalnya, masing-masing negara atau organisasi internasional
memiliki sistem klasifikasi bahan berbahaya yang berbeda.
Beberapa badan atau organisasi internasional
yang mengeluarkan standar dan kode hazardous material antara lain:
·
National Fire Protection
Association (NFPA)
·
The United States Department of Transportation
(DOT)
·
U.S. Occupational Safety and Health
Administration (OSHA)
·
International Programme on Chemical Safety (IPCS)
·
International Labour Organisation (ILO)
·
European Union (EU)
·
Globally Harmonized System (GHS)
NFPA 400: Hazardous Material Code mengklasifikasikan
hazardous material dalam 14 kategori. Klasifikasi bahan berbahaya oleh DOT yang
dimaksudkan untuk keperluan transportasi bahan berbahaya dibagi ke dalam 9
kategori. Sementara itu, OSHA juga memiliki definisi sendiri mengenai hazardous
material yang ditetapkan dalam 29 CFR.
GHS, Sistem Klasifikasi Bahan Berbahaya
Standar Internasional
Dengan adanya perbedaan klasifikasi bahan berbahaya di berbagai negara, maka dibentuklah sistem untuk mengharmonisasikan perbedaan tersebut. Sistem tersebut adalah The Globally Harmonized System (GHS) of Classification and Labelling of Chemicals yang dibuat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
GHS merupakan sistem untuk mengklasifikasi
bahan-bahan kimia berbahaya secara menyeluruh. Adanya GHS dimaksudkan untuk
menyelaraskan sistem kontrol klasifikasi bahan berbahaya yang sebelumnya
berbeda di setiap negara. Dengan kata lain, GHS merupakan sistem klasifikasi
bahan berbahaya secara internasional.
Dengan sistem ini, maka diharapkan tidak ada
lagi kerancuan berkaitan dengan apakah sebuah bahan kimia berbahaya atau
tidak. Manfaat lain dari GHS ini tentunya dapat meningkatkan keselamatan
serta keamanan pekerja.
Klasifikasi Hazardous Material Berdasarkan DOT dan NFPA
400
U.S. Department of Transportation (DOT) merupakan
lembaga pemerintah di Amerika Serikat yang menetapkan standar untuk
transportasi material berbahaya. Label atau simbol bahan berbahaya tersebut
dipasang pada kendaraan pengangkut dan kemasan paket. Baik pada transportasi
darat, laut, maupun udara.
Terdapat 9 klasifikasi bahan berbahaya menurut U.S. Department of Transportation (DOT) antara lain:
·
Kelas 1: Mudah meledak
·
Kelas 2: Gas
·
Kelas 3: Cairan dan uap mudah terbakar
·
Kelas 4: Padatan mudah terbakar, mudah
terbakar secara spontan, dan berbahaya saat basah
·
Kelas 5: Oksidator dan peroksida organik
·
Kelas 6: Beracun atau bahaya terhirup racun
·
Kelas 7: Radioaktif
·
Kelas 8: Korosif
·
Kelas 9: Bahaya lainnya
NFPA 400: Hazardous Material Code merupakan kode atau standar untuk penyimpanan, penggunaan, dan penanganan bahan berbahaya di semua fasilitas dan hunian. Standar ini mengklasifikasikan bahan berbahaya dalam 14 kategori, yaitu:
1. Padatan, cairan, atau gas korosif
2. Padatan mudah terbakar
3. Gas mudah terbakar
4. Cairan kriogenik mudah terbakar
5. Cairan kriogenik inert
6. Gas inert
7. Formulasi peroksida organik
8. Oksidator padat atau cair
9. Gas pengoksidasi
10. Cairan kriogenik pengoksidasi
11. Padatan, cairan, atau gas piroforik
12. Padatan, cairan, dan gas beracun atau sangat beracun
13. Padatan, cairan, atau gas tidak stabil
14. Padatan atau cairan yang reaktif terhadap air
Tantangan dalam Menentukan Klasifikasi Bahan Berbahaya
Salah satu tantangan dalam menentukan dan
mengklasifikasikan bahan berbahaya yaitu antara dua sistem ternyata ada banyak
kategori yang menggunakan kata-kata yang sama, namun memiliki ambang batas yang
berbeda. Salah satu contohnya adalah klasifikasi bahan berbahaya
berupa flammable
liquid atau zat cair mudah terbakar.
DOT mendefinisikan flammable liquid sebagai cairan
yang memiliki titik nyala lebih dari 60 °C (140 °F) atau bahan apapun dalam
fase cair dengan titik nyala 37,8 °C (100 °F) atau di atasnya yang sengaja
dipanaskan dan ditawarkan untuk diangkut atau diangkut pada atau di atas titik
nyalanya dalam kemasan curah.
Sementara itu, NFPA 400 menyatakan bahwa
flammable liquid adalah cairan yang mudah terbakar dengan klasifikasi cairan
Kelas I. Terdapat tiga subklasifikasi cairan Kelas I menurut standar NFPA 400.
dengan ambang batas spesifik sebagai berikut:
|
Subklasifikasi |
Titik nyala |
Titik didih |
|
Cairan Kelas IA |
di bawah 73°F (22.8°C) |
di bawah 100°F (37.8°C) |
|
Cairan Kelas IB |
di bawah 73°F (22.8°C) |
pada atau di atas 100°F (37.8°C) |
|
Cairan Kelas IC |
pada atau di atas 73°F (22.8°C) tapi di
bawah 100°F (37.8°C) |
tidak ada |
Tantangan lain adalah fakta bahwa kode dan
standar NFPA lainnya mungkin menggunakan definisi “hazardous material” yang
berbeda. Contoh dokumen yang memberikan definisi hazardous material yang berbeda
adalah NFPA 30 : Flammable and Combustible
Liquids Code.
Standar NFPA 30 mendefinisikan bahan kimia
berbahaya sebagai “bahan yang menghadirkan bahaya di luar masalah kebakaran
yang berkaitan dengan titik nyala dan titik didih”. Dalam lampiran
selanjutnya, dijelaskan bahwa bahaya lain tersebut mencakup hal-hal seperti
reaktivitas, toksisitas, ketidakstabilan, dan korosif.
Meskipun tampak bertentangan dengan NFPA 400,
namun definisi bahan berbahaya dari NFPA 30 sebenarnya tetap sejalan dengan
bagaimana NFPA 400 diterapkan.
Cara Identifikasi Hazardous Material
Sebelum menggunakan, menyimpan, atau
mengangkut bahan berbahaya, maka Anda harus mengidentifikasi bahan berbahaya
tersebut terlebih dahulu. Tujuannya agar upaya tersebut bisa dilakukan secara
aman sesuai dengan karakteristik bahan berbahaya tersebut.
Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah
menentukan tujuan identifikasi bahan berbahaya tersebut. Apakah tujuan
identifikasi bahan berbahaya tersebut untuk keperluan pengangkutan, penggunaan,
penanganan, atau penyimpanan.
Sebagai contoh, jika bertujuan untuk
pengangkutan material, maka bisa mengacu pada klasifikasi hazardous material
dari U.S.
Department of Transportation (DOT). Sementara itu, jika
identifikasi bahan berbahaya yang bertujuan untuk penanganan, penggunaan, atau
penyimpanan, maka bisa mengacu pada NFPA
400.
Selain itu, sangat penting untuk mengetahui
sistem apa yang digunakan oleh bahan berbahaya tersebut untuk menentukan
klasifikasi yang tepat. Baik dengan melihat pada Safety Data Sheet
(SDS) atau menggunakan data uji yang sebenarnya. Dengan begitu, maka
klasifikasi bahan berbahaya bisa ditentukan berdasarkan definisi yang tepat.
Penulis: Widyaningrum Permata Siwi, ST. Fungsional
PEDAL Ahli Pertama
Pengenalan Global Harmonized System (GHS). Pada artikel ini
akan membahas lebih lanjut mengenai klasifikasi bahaya sesuai GHS berdasarkan
UN GHS purple book. Didalam purple book, Global Harmonized System atau yang biasa disingkat
GHS, disebutkan mencakup dua elemen ruang lingkup, yaitu :
a)kriteria
harmonisasi untuk mengklasifikasikan senyawa tunggal dan senyawa campuran
berdasarkan bahaya fisik, kesehatan dan lingkungan.
b)harmonisasi
komunikasi bahaya, termasuk pelabelan dan lembar data keselamatan.
Klasifikasi
bahaya berdasarkan GHS terbagi menjadi bahaya fisik, bahaya terhadap kesehatan
dan bahaya terhadap lingkungan hidup. Dari klasifikasi bahaya tersebut
diturunkan menjadi 29 kelas bahaya dan terbagi menjadi 107 kategori bahaya.
Kategori bahaya merupakan pembagian kriteria dalam setiap kelas bahaya yang
memiliki cara identifikasi yang berbeda. Berikut ini merupakan pembagian dari
klasifikasi bahaya berdasarkan GHS.
A.Bahaya
Fisik
·
Mudah
meledak
·
Gas
yang mudah terbakar
·
Aerosol
·
Gas
pengoksidasi
·
Gas
bertekanan
·
Cairan
mudah terbakar
·
Padatan
mudah terbakar
·
Senyawa
yang dapat bereaksi sendiri (self reactive)
·
Cairan
Piroforik
·
Padatan
Piroforik
·
Senyawa
yang dapat menghasilkan panas sendiri (self heating)
·
Senyawa
yang apabila kontak dengan air dapat menghasilkan gas yang mudah terbakar
·
Cairan
pengoksidasi
·
Padatan
pengoksidasi
·
Peroksida
organik
·
Korosif
terhadap logam
·
Peledak
yang telah dikurangi kepekaan ledakannya
1.Mudah
meledak
a.Bahan
dan campuran yang mudah meledak;
b.Artikel
yang mudah meledak, kecuali alat yang mengandung senyawa peledak dengan jumlah
tertentu atau karakter tertentu dimana pengapian yang muncul dari bahan ini
secara tidak sengaja tidak akan menyebabkan dampak terhadap bahan lain yang
meliputi api, asap, panas atau suara kencang
c.Senyawa
dan artikel yang tidak termasuk dalam poin (a) dan (b) diatas yang diproduksi
untuk menghasilkan ledakan atau efek piroteknik
Gas
yang mudah terbakar adalah gas yang dapat terbakar dengan udara pada suhu 20 ⁰C
dan tekanan udara standar 101.3 kPa. Gas mudah terbakar terbagi menjadi gas
pirofirik dan gas yang tidak stabil secara kimia. Gas piroforik adalah gas yang
mudah terbakar yang dapat menyala secara spontan di udara pada suhu 54˚C atau
lebih rendah. Gas yang tidak stabil secara kimia adalah gas yang mudah terbakar
yang mampu bereaksi secara eksplosif bahkan tanpa adanya udara atau oksigen
3.Aerosol
Aerosol,
ini merujuk kepada aerosol dalam dispenser, adalah wadah non-isi ulang yang
terbuat dari logam, kaca atau plastik dan mengandung gas yang dikompresi, dicairkan
atau dilarutkan di bawah tekanan, dengan atau tanpa cairan, pasta atau bubuk,
dan dilengkapi dengan perangkat pelepas yang memungkinkan isi yang akan
dikeluarkan sebagai partikel padat atau cair dalam suspensi dalam gas, seperti
busa, pasta atau bubuk atau dalam keadaan cair atau dalam keadaan gas.
Aerosol
diklasifikasikan dalam salah satu dari tiga kategori kelas bahaya, tergantung
pada sifat mudah terbakar dan panasnya pembakaran. Masing-masing harus
dipertimbangkan untuk klasifikasi di Kategori 1 atau 2 jika mengandung lebih
dari 1% komponen yang diklasifikasikan mudah terbakar sesuai kriteria GHS,
yaitu :
-
Gas mudah terbakar
-
Cairan mudah terbakar
-
Padatan mudah terbakar
atau
jika panas dari pembakaran minimal 20 kj/g.
4.Gas
pengoksidasi
Gas
pengoksidasi adalah gas yang umumnya dengan tersedianya oksigen, dapat
menyebabkan atau berkontribusi pada pembakaran bahan lain.
5.Gas
bertekanan
Gas
bertekanan adalah gas yang terkandung dalam wadah pada tekanan 200 kPa atau
lebih, pada suhu 20°C, atau gas yang dicairkan atau gas yang dicairkan kemudian
didinginkan. Pada kelompok gas bertekanan terdiri dari gas terkompresi, gas
cair, gas terlarut dan gas cair didinginkan.
6.Cairan
mudah terbakar
Cairan
yang mudah terbakar adalah cairan yang memiliki titik nyala tidak lebih dari
93°C.
7.Padatan
mudah terbakar
Padatan
yang mudah terbakar adalah padatan yang mudah terbakar, atau dapat menyebabkan
kebakaran melalui gesekan. Padatan mudah terbakar yaitu berupa bubuk, butiran,
atau zat yang berbahaya yang dapat dengan mudah tersulut melalui kontak singkat
dengan sumber penyalaan, seperti korek api, dan nyala api dapat menyebar dengan
cepat.
8.Senyawa
yang dapat bereaksi sendiri
Senyawa
yang dapat bereaksi sendiri adalah senyawa cair atau padat yang tidak stabil
secara termal yang dapat mengalami penguraian eksotermik dengan kuat walaupun
tanpa partisipasi oksigen (udara). Definisi ini tidak termasuk senyawa yang
tergolong sebagai bahan peledak, peroksida organik atau sebagai pengoksidasi.
Senyawa yang dapat bereaksi sendiri dianggap memiliki sifat peledak apabila
saat diuji di laboratorium senyawa tersebut dapat meledak, terdeposisi dengan
cepat atau menunjukkan efek yang hebat saat dipanaskan di dalam ruang tertutup.
9.Cairan
Piroforik
Cairan
piroforik adalah cairan yang dalam jumlah kecil, dapat menyala dalam waktu lima
menit setelah bersentuhan dengan udara.
10.Padatan
Pirofirik
Padatan
piroforik adalah padatan yang dalam jumlah kecil, dapat menyala dalam waktu
lima menit setelah bersentuhan dengan udara.
11.Senyawa
yang dapat menghasilkan panas sendiri
Senyawa
yang dapat menghasilkan panas sendiri adalah zat padat atau cair, selain cairan
atau padatan piroforik, yang melalui reaksi dengan udara dan tanpa suplai
energi, dapat menyebabkan panas sendiri; senyawa ini berbeda dari cairan atau
padatan piroforik karena hanya akan menyala jika dalam jumlah besar (kilogram)
dan setelah jangka waktu yang lama (jam atau hari).
12.Senyawa
yang apabila kontak dengan air dapat menghasilkan gas yang mudah terbakar
Zat
atau campuran yang jika kontak dengan air, dapat menghasilkan gas yang mudah
terbakar adalah senyawa padat atau cair yang apabila melalui interaksi dengan
air, dapat menjadi mudah terbakar secara spontan atau mengeluarkan gas yang
mudah terbakar dalam jumlah yang berbahaya.
13.Cairan
pengoksidasi
Cairan
pengoksidasi adalah cairan yang dengan sendirinya tidak selalu mudah terbakar,
umumnya dengan menghasilkan oksigen, dapat menyebabkan atau berkontribusi pada
pembakaran bahan lainnya.
14.Padatan
pengoksidasi
Padatan
pengoksidasi adalah padatan yang, dengan sendirinya tidak selalu mudah
terbakar, umumnya dengan menghasilkan oksigen, dapat menyebabkan atau
berkontribusi pada pembakaran bahan lainnya.
15.Peroksida
organik
Peroksida
organik adalah zat organik cair atau padat yang mengandung struktur bivalen dan
dapat dianggap sebagai turunan hidrogen peroksida, di mana salah satu atau
kedua atom hidrogen telah digantikan oleh radikal organik. Istilah ini juga
mencakup formulasi peroksida organik. Peroksida organik adalah zat atau
campuran yang tidak stabil secara termal, yang dapat mengalami dekomposisi
eksotermik dengan percepatan sendiri. Selain itu, mereka mungkin memiliki satu
atau lebih sifat berikut:
(a)
dapat menyebabkan dekomposisi eksplosif;
(b)
terbakar dengan cepat;
(c)
peka terhadap benturan atau gesekan;
(d)
bereaksi berbahaya dengan zat lain.
Suatu
peroksida organik dianggap memiliki sifat eksplosif bila dalam pengujian
laboratorium formulasi tersebut dapat meledak, terdeposisi dengan cepat atau
menunjukkan efek hebat bila dipanaskan di wadah tertutup.
16.Korosif
terhadap logam
Senyawa
yang bersifat korosif terhadap logam adalah senyawa yang secara kimiawi akan
merusak atau bahkan menghancurkan logam secara material.
17.Peledak
yang telah dikurangi kepekaan ledakannya
a.Bahan
peledak padat yang telah dikurangi kepekaan ledakannya: bahan peledak yang
dibasahi dengan air atau alkohol atau diencerkan dengan bahan lain, untuk
membentuk campuran padat homogen untuk menekan sifat ledakannya.
b.Bahan
peledak cair yang telah dikurangi kepekaan ledakannya: bahan peledak yang
dilarutkan atau disuspensikan dalam air atau bahan cair lainnya, untuk
membentuk campuran cairan homogen untuk menekan sifat ledakannya.
B.Bahaya
terhadap kesehatan
·
Toksisitas
akut
·
Korosi
dan iritasi kulit
·
Iritasi
dan dapat merusak mata
·
Sensitivitas
pada pernafasan atau kulit
·
Mutasi
sel
·
Karsinogen
·
Toksisitas
reproduksi
·
Toksisitas
pada target organ tertentu ketika terkena pajanan tunggal
·
Toksisitas
pada target organ tertentu ketika pajanan berulang
·
Bahaya
aspirasi
1.Toksisitas
Akut
Toksisitas
akut mengacu pada efek kesehatan yang serius yang terjadi dalam jangka pendek
setelah paparan oral, kulit atau inhalasi tunggal terhadap suatu senyawa.
2.Korosi
dan iritasi kulit
Korosi
kulit merupakan kerusakan permanen pada kulit akibat kematian sel atau
jaringan, yang terlihat melalui epidermis dan ke dalam dermis yang terjadi
setelah terpapar suatu zat atau campuran. Iritasi kulit yaitu kerusakan
reversibel pada kulit yang terjadi setelah terpapar suatu zat atau campuran.
3.Kerusakan
serius pada mata dan iritasi mata
Kerusakan
mata yang serius yaitu kerusakan jaringan pada mata, atau kerusakan fisik yang
serius pada penglihatan, yang tidak sepenuhnya dapat dikembalikan, yang terjadi
setelah mata terpapar zat atau campuran. Iritasi mata yaitu perubahan pada
mata, yang sepenuhnya reversibel, terjadi setelah paparan mata terhadap suatu
zat atau campuran.
4.Sensitisasi
pada pernafasan atau kulit
Sensitisasi
pernapasan yaitu hipersensitivitas saluran udara yang terjadi setelah menghirup
zat atau campuran. Sensitisasi kulit mengacu pada respons alergi yang terjadi
setelah kontak kulit dengan suatu senyawa. Sensitisasi mencakup dua fase, fase
pertama adalah induksi memori imunologi khusus pada individu yang terpajan
alergen. Fase kedua adalah elisitasi, yaitu produksi respons alergi yang
dimediasi sel atau yang dimediasi antibodi oleh paparan individu yang peka
terhadap alergen.
Kelas
bahaya sensitisasi pernapasan atau kulit dibedakan menjadi:
(a)
Sensitisasi pernapasan; dan
(b)
Sensitisasi kulit
5.Mutagenisitas
sel
Mutagenisitas
sel mengacu pada mutasi gen yang diwariskan, termasuk penyimpangan struktural
dan numerik kromosom yang diwariskan dalam sel germinal yang terjadi setelah
terpapar suatu zat atau campuran. Kelas bahaya ini berkaitan dengan bahan kimia
yang dapat menyebabkan mutasi pada sel germinal manusia yang dapat ditularkan
ke keturunannya. Mutasi didefinisikan sebagai perubahan permanen dalam jumlah
atau struktur materi genetik dalam sel. Istilah mutagenik dan mutagen akan
digunakan untuk agen yang meningkatkan terjadinya mutasi pada populasi sel
dan/atau organisme.
6.Karsinogen
Karsinogenisitas
mengacu pada induksi kanker atau peningkatan insiden kanker yang terjadi
setelah terpapar suatu senyawa. Klasifikasi suatu senyawa yang menimbulkan
bahaya karsinogenik didasarkan pada sifat-sifat yang melekat dan tidak
memberikan informasi tentang tingkat risiko kanker pada manusia yang dapat ditimbulkan
oleh penggunaan senyawa tersebut.
7.Toksisitas
reproduksi
Toksisitas
reproduksi yaitu efek buruk pada fungsi seksual dan kesuburan pada pria dan
wanita dewasa, serta meliputi toksisitas perkembangan pada keturunannya, yang
terjadi setelah terpapar suatu senyawa.
Dalam
sistem klasifikasi ini, toksisitas reproduksi dibagi menjadi:
(a)
Efek buruk pada fungsi seksual dan kesuburan;
(b)
Efek buruk pada perkembangan keturunannya.
8.Toksisitas
pada target organ tertentu ketika terkena pajanan tunggal
Toksisitas
pada target organ tertentu yaitu efek toksik pada target organ tertentu yang
tidak mematikan yang terjadi setelah terpapar suatu senyawa. Toksisitas pada
target organ tertentu dapat terjadi melalui rute pajanan yang relevan untuk
manusia, yaitu terutama oral, dermal atau inhalasi.
9.Toksisitas
pada target organ tertentu ketika pajanan berulang
Toksisitas
pada target organ tertentu melalui paparan berulang yaitu efek toksik pada
organ target tertentu yang terjadi setelah paparan berulang terhadap suatu senyawa.
Data dampak terhadap manusia yang ada akan menjadi sumber bukti utama untuk
kelas bahaya ini. Penilaian harus mempertimbangkan tidak hanya perubahan
signifikan pada satu organ atau sistem biologis tetapi juga perubahan umum yang
tidak terlalu parah yang melibatkan beberapa organ.
10.Bahaya
Aspirasi
Aspirasi
berarti masuknya bahan kimia cair atau padat secara langsung melalui rongga
mulut atau hidung, atau secara tidak langsung dari muntah, ke dalam trakea dan
sistem pernapasan bagian bawah. Bahaya aspirasi meliputi efek akut yang parah
seperti pneumonia kimia, cedera paru atau kematian yang terjadi setelah
aspirasi suatu senyawa. Aspirasi suatu senyawa dapat terjadi ketika ada senyawa
yang tertelan berusaha untuk dimuntahkan. Beberapa senyawa yang mempunyai
bahaya toksisitas akut memang disarankan untuk dilakukan usaha untuk
dimuntahkan apabila senyawa tersebut tertelan.
C.Bahaya
terhadap lingkungan
1.Bahaya
untuk lingkungan perairan
·
Toksisitas
akut pada perairan
·
Toksisitas
kronis pada perairan
·
Potensi
terjadinya bioakumulasi
·
Degradasi
untuk senyawa organik
a.Toksisitas
akut pada perairan
b.Toksisitas
kronis pada perairan
c.Potensi
terjadinya bioakumulasi
d.Degradasi
untuk senyawa organik
2.Bahaya
terhadap Lapisan Ozon
Bahaya
fisik terbagi menjadi 17 kelas bahaya, yaitu :
Senyawa
peledak adalah senyawa padat atau cair atau senyawa campuran yang dengan reaksi
kimianya mampu menghasilkan sendiri gas pada suhu dan tekanan serta kecepatan
tertentu sehingga menyebabkan kerusakan ke lingkungan sekitarnya. Senyawa
piroteknik termasuk kategori senyawa peledak meskipun senyawa ini tidak
mengembangkan gas.
Kelas
bahan peledak terdiri dari :
Gas
yang mudah terbakar adalah gas yang dapat terbakar dengan udara pada suhu 20 ⁰C
dan tekanan udara standar 101.3 kPa. Gas mudah terbakar terbagi menjadi gas
pirofirik dan gas yang tidak stabil secara kimia. Gas piroforik adalah gas yang
mudah terbakar yang dapat menyala secara spontan di udara pada suhu 54˚C atau
lebih rendah. Gas yang tidak stabil secara kimia adalah gas yang mudah terbakar
yang mampu bereaksi secara eksplosif bahkan tanpa adanya udara atau oksigen
Aerosol,
ini merujuk kepada aerosol dalam dispenser, adalah wadah non-isi ulang yang
terbuat dari logam, kaca atau plastik dan mengandung gas yang dikompresi,
dicairkan atau dilarutkan di bawah tekanan, dengan atau tanpa cairan, pasta
atau bubuk, dan dilengkapi dengan perangkat pelepas yang memungkinkan isi yang
akan dikeluarkan sebagai partikel padat atau cair dalam suspensi dalam gas,
seperti busa, pasta atau bubuk atau dalam keadaan cair atau dalam keadaan gas.
Aerosol
diklasifikasikan dalam salah satu dari tiga kategori kelas bahaya, tergantung
pada sifat mudah terbakar dan panasnya pembakaran. Masing-masing harus
dipertimbangkan untuk klasifikasi di Kategori 1 atau 2 jika mengandung lebih
dari 1% komponen yang diklasifikasikan mudah terbakar sesuai kriteria GHS,
yaitu :
-
Gas mudah terbakar
-
Cairan mudah terbakar
-
Padatan mudah terbakar
atau
jika panas dari pembakaran minimal 20 kj/g.
Gas
pengoksidasi adalah gas yang umumnya dengan tersedianya oksigen, dapat
menyebabkan atau berkontribusi pada pembakaran bahan lain.
Gas
bertekanan adalah gas yang terkandung dalam wadah pada tekanan 200 kPa atau
lebih, pada suhu 20°C, atau gas yang dicairkan atau gas yang dicairkan kemudian
didinginkan. Pada kelompok gas bertekanan terdiri dari gas terkompresi, gas
cair, gas terlarut dan gas cair didinginkan.
Cairan
yang mudah terbakar adalah cairan yang memiliki titik nyala tidak lebih dari
93°C.
Padatan
yang mudah terbakar adalah padatan yang mudah terbakar, atau dapat menyebabkan
kebakaran melalui gesekan. Padatan mudah terbakar yaitu berupa bubuk, butiran,
atau zat yang berbahaya yang dapat dengan mudah tersulut melalui kontak singkat
dengan sumber penyalaan, seperti korek api, dan nyala api dapat menyebar dengan
cepat.
Senyawa
yang dapat bereaksi sendiri adalah senyawa cair atau padat yang tidak stabil
secara termal yang dapat mengalami penguraian eksotermik dengan kuat walaupun
tanpa partisipasi oksigen (udara). Definisi ini tidak termasuk senyawa yang
tergolong sebagai bahan peledak, peroksida organik atau sebagai pengoksidasi.
Senyawa yang dapat bereaksi sendiri dianggap memiliki sifat peledak apabila
saat diuji di laboratorium senyawa tersebut dapat meledak, terdeposisi dengan
cepat atau menunjukkan efek yang hebat saat dipanaskan di dalam ruang tertutup.
Cairan
piroforik adalah cairan yang dalam jumlah kecil, dapat menyala dalam waktu lima
menit setelah bersentuhan dengan udara.
Padatan
piroforik adalah padatan yang dalam jumlah kecil, dapat menyala dalam waktu
lima menit setelah bersentuhan dengan udara.
Senyawa
yang dapat menghasilkan panas sendiri adalah zat padat atau cair, selain cairan
atau padatan piroforik, yang melalui reaksi dengan udara dan tanpa suplai
energi, dapat menyebabkan panas sendiri; senyawa ini berbeda dari cairan atau
padatan piroforik karena hanya akan menyala jika dalam jumlah besar (kilogram)
dan setelah jangka waktu yang lama (jam atau hari).
Zat
atau campuran yang jika kontak dengan air, dapat menghasilkan gas yang mudah
terbakar adalah senyawa padat atau cair yang apabila melalui interaksi dengan
air, dapat menjadi mudah terbakar secara spontan atau mengeluarkan gas yang
mudah terbakar dalam jumlah yang berbahaya.
Cairan
pengoksidasi adalah cairan yang dengan sendirinya tidak selalu mudah terbakar,
umumnya dengan menghasilkan oksigen, dapat menyebabkan atau berkontribusi pada
pembakaran bahan lainnya.
Padatan
pengoksidasi adalah padatan yang, dengan sendirinya tidak selalu mudah
terbakar, umumnya dengan menghasilkan oksigen, dapat menyebabkan atau
berkontribusi pada pembakaran bahan lainnya.
Peroksida
organik adalah zat organik cair atau padat yang mengandung struktur bivalen dan
dapat dianggap sebagai turunan hidrogen peroksida, di mana salah satu atau
kedua atom hidrogen telah digantikan oleh radikal organik. Istilah ini juga
mencakup formulasi peroksida organik. Peroksida organik adalah zat atau
campuran yang tidak stabil secara termal, yang dapat mengalami dekomposisi
eksotermik dengan percepatan sendiri. Selain itu, mereka mungkin memiliki satu
atau lebih sifat berikut:
(a)
dapat menyebabkan dekomposisi eksplosif;
(b)
terbakar dengan cepat;
(c)
peka terhadap benturan atau gesekan;
(d)
bereaksi berbahaya dengan zat lain.
Suatu
peroksida organik dianggap memiliki sifat eksplosif bila dalam pengujian
laboratorium formulasi tersebut dapat meledak, terdeposisi dengan cepat atau
menunjukkan efek hebat bila dipanaskan di wadah tertutup.
Senyawa
yang bersifat korosif terhadap logam adalah senyawa yang secara kimiawi akan
merusak atau bahkan menghancurkan logam secara material.
Bahan
peledak yang yang telah dikurangi kepekaan ledakannya adalah senyawa bahan
peledak padat atau cair yang diawetkan untuk menekan sifat peledaknya
sedemikian rupa sehingga tidak meledak massal dan tidak terbakar terlalu cepat
dan oleh karena itu dapat dikecualikan dari kelas bahaya Bahan Peledak.
Kelas
bahan peledak yang telah dikurangi kepekaan ledakannya terdiri dari:
Bahaya
terhadap kesehatan terbagi menjadi 10 kelas bahaya, yaitu:
Toksisitas
akut mengacu pada efek kesehatan yang serius yang terjadi dalam jangka pendek
setelah paparan oral, kulit atau inhalasi tunggal terhadap suatu senyawa.
Korosi
kulit merupakan kerusakan permanen pada kulit akibat kematian sel atau
jaringan, yang terlihat melalui epidermis dan ke dalam dermis yang terjadi
setelah terpapar suatu zat atau campuran. Iritasi kulit yaitu kerusakan
reversibel pada kulit yang terjadi setelah terpapar suatu zat atau campuran.
Kerusakan
mata yang serius yaitu kerusakan jaringan pada mata, atau kerusakan fisik yang
serius pada penglihatan, yang tidak sepenuhnya dapat dikembalikan, yang terjadi
setelah mata terpapar zat atau campuran. Iritasi mata yaitu perubahan pada
mata, yang sepenuhnya reversibel, terjadi setelah paparan mata terhadap suatu
zat atau campuran.
Sensitisasi
pernapasan yaitu hipersensitivitas saluran udara yang terjadi setelah menghirup
zat atau campuran. Sensitisasi kulit mengacu pada respons alergi yang terjadi
setelah kontak kulit dengan suatu senyawa. Sensitisasi mencakup dua fase, fase
pertama adalah induksi memori imunologi khusus pada individu yang terpajan
alergen. Fase kedua adalah elisitasi, yaitu produksi respons alergi yang dimediasi
sel atau yang dimediasi antibodi oleh paparan individu yang peka terhadap
alergen. Kelas bahaya sensitisasi pernapasan atau kulit dibedakan menjadi:
(a)
Sensitisasi pernapasan; dan
(b)
Sensitisasi kulit
Mutagenisitas
sel mengacu pada mutasi gen yang diwariskan, termasuk penyimpangan struktural
dan numerik kromosom yang diwariskan dalam sel germinal yang terjadi setelah
terpapar suatu zat atau campuran. Kelas bahaya ini berkaitan dengan bahan kimia
yang dapat menyebabkan mutasi pada sel germinal manusia yang dapat ditularkan
ke keturunannya. Mutasi didefinisikan sebagai perubahan permanen dalam jumlah
atau struktur materi genetik dalam sel. Istilah mutagenik dan mutagen akan
digunakan untuk agen yang meningkatkan terjadinya mutasi pada populasi sel dan/atau
organisme.
Karsinogenisitas
mengacu pada induksi kanker atau peningkatan insiden kanker yang terjadi
setelah terpapar suatu senyawa. Klasifikasi suatu senyawa yang menimbulkan
bahaya karsinogenik didasarkan pada sifat-sifat yang melekat dan tidak memberikan
informasi tentang tingkat risiko kanker pada manusia yang dapat ditimbulkan
oleh penggunaan senyawa tersebut.
Toksisitas
reproduksi yaitu efek buruk pada fungsi seksual dan kesuburan pada pria dan
wanita dewasa, serta meliputi toksisitas perkembangan pada keturunannya, yang
terjadi setelah terpapar suatu senyawa.
Dalam
sistem klasifikasi ini, toksisitas reproduksi dibagi menjadi:
(a)
Efek buruk pada fungsi seksual dan kesuburan;
(b)
Efek buruk pada perkembangan keturunannya.
Toksisitas
pada target organ tertentu yaitu efek toksik pada target organ tertentu yang
tidak mematikan yang terjadi setelah terpapar suatu senyawa. Toksisitas pada
target organ tertentu dapat terjadi melalui rute pajanan yang relevan untuk
manusia, yaitu terutama oral, dermal atau inhalasi.
Toksisitas
pada target organ tertentu melalui paparan berulang yaitu efek toksik pada
organ target tertentu yang terjadi setelah paparan berulang terhadap suatu
senyawa. Data dampak terhadap manusia yang ada akan menjadi sumber bukti utama
untuk kelas bahaya ini. Penilaian harus mempertimbangkan tidak hanya perubahan
signifikan pada satu organ atau sistem biologis tetapi juga perubahan umum yang
tidak terlalu parah yang melibatkan beberapa organ.
Aspirasi
berarti masuknya bahan kimia cair atau padat secara langsung melalui rongga
mulut atau hidung, atau secara tidak langsung dari muntah, ke dalam trakea dan
sistem pernapasan bagian bawah. Bahaya aspirasi meliputi efek akut yang parah
seperti pneumonia kimia, cedera paru atau kematian yang terjadi setelah
aspirasi suatu senyawa. Aspirasi suatu senyawa dapat terjadi ketika ada senyawa
yang tertelan berusaha untuk dimuntahkan. Beberapa senyawa yang mempunyai
bahaya toksisitas akut memang disarankan untuk dilakukan usaha untuk
dimuntahkan apabila senyawa tersebut tertelan.
Bahaya
terhadap lingkungan terbagi menjadi 2 kelas bahaya, yaitu bahaya terhadap
lingkungan perairan dan bahaya terhadap lapisan ozon.
Dasar
klasifikasi bahaya terhadap lingkungan perairan terbagi menjadi :
Toksisitas
akut pada perairan adalah sifat intrinsik suatu zat untuk dapat memberikan efek
merugikan terhadap suatu organisme dalam paparan jangka pendek terhadap zat
tersebut.
Toksisitas
kronis pada perairan adalah sifat yang dimiliki suatu senyawa yang membahayakan
suatu organisme ketika senyawa tersebut terpajan ke air dalam jangka panjang
atau jangka waktu yang ditentukan dalam kaitannya dengan siklus hidup organisme
tersebut.
Bioakumulasi
adalah total akumulasi suatu zat dalam organisme dari hasil penyerapan,
transformasi dan eliminasi melalui semua jalur paparan (udara, air, sedimen dan
makanan).
Degradasi
adalah dekomposisi molekul organik ke molekul yang lebih kecil dan akhirnya
menjadi karbon dioksida, air dan garam. Degradasi dilingkungan dapat bersifat
biotik atau abiotik seperti hidrolisis.
Bahaya
terhadap lapisan ozon ditentukan berdasarkan Protokol Montreal. Protokol
Montreal adalah kesepakatan yang dilakukan di Montreal tentang senyawa yang
dapat merusak lapisan Ozon sebagaimana ditetapkan oleh Para Pihak dalam
Protokol Montreal. Ozone Depleting Potential (ODP)
merupakan potensi penipisan ozon yang disebabkan oleh suatu jenis bahan kimia
relatif terhadap CFC-11. Suatu zat atau campuran yang tercantum dalam Lampiran
Protokol Montreal; atau Campuran apa pun yang mengandung setidaknya satu bahan
yang tercantum dalam Lampiran Protokol Montreal, pada konsentrasi 0,1%
diklasifikasikan sebagai Kategori 1.
Referensi
:
Globally
harmonized system of classification and labelling of chemicals. Eight revised
edition. UN New York and Geneva, 2019.



