Selasa, 15 Oktober 2024

bakul 24

 

7 Simbol Bahan Kimia Berbahaya

Bahan-bahan kimia yang ada di laboratorium memiliki sifat yang beraneka ragam. Di antara sifat-sifatnya tersebut, ada beberapa di antaranya yang ternyata dapat membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan para pekerja dan lingkungannya (K3LH). Untuk membedakan antara bahan kimia berbahaya dengan bahan kimia yang tidak berbahaya diperlukan suatu simbol khusus yang bersifat universal. Inilah yang mendasari dibuatnya suatu peraturan tentang simbol bahan kimia berbahaya. Melalui peraturan tersebut, dibuatlah suatu simbol-simbol yang menandakan sifat berbahaya dari suatu bahan kimia. Simbol-simbol bahan kimia tersebutlah yang akan dijelaskan pada artikel kali ini.

Simbol Bahan Kimia

Simbol bahaya kimia adalah suatu piktogram berlatar belakang orange dengan garis batas dan gambar berwarna hitam. Gambar yang terdapat dalam piktogram umumnya menggambarkan sifat bahaya dari bahan yang dilabeli. Sifat bahaya tersebut misalnya risiko ledakan dan kebakaran, risiko kesehatan dan keracunan, atau kombinasi keduanya.

 

Berikut ini  7 simbol bahan kimia berbahaya lengkap dengan gambar dan keterangannya.

1. Explosive (Mudah Meledak)

Description: Simbol Bahan Kimia Mudah Meledak

Bahan kimia yang diberi simbol seperti gambar disamping adalah bahan yang mudah meledak (explosive). Ledakan pada bahan tersebut bisa terjadi karena beberapa penyebab, misalnya karena benturan, pemanasan, pukulan, gesekan, reaksi dengan bahan kimia lain, atau karena adanya sumber percikan api. Ledakan pada bahan kimia dengan simbol ini kadang kali bahkan dapat terjadi meski dalam kondisi tanpa oksigen. Beberapa contoh bahan kimia dengan sifat explosive misalnya TNT, ammonium nitrat, dan nitroselulosa. Bekerja dengan bahan kimia yang mudah meledak membutuhkan pengalaman praktis sekaligus pengetahuan. Menghindari hal-hal yang dapat memicu ledakan sangat penting dilakukan untuk mencegah risiko fatal bagi keselamatan diri.

2. Oxidizing (Mudah Teroksidasi)

Description: Simbol Bahan Kimia Mudah Teroksidasi

Bahan kimia yang diberi simbol seperti gambar di samping adalah bahan kimia yang bersifat mudah menguap dan mudah terbakar melalui oksidasi (oxidizing). Penyebab terjadinya kebakaran umumnya terjadi akibat reaksi bahan tersebut dengan udara yang panas, percikan api, atau karena raksi dengan bahan-bahan yang bersifat reduktor. Bekerja dengan bahan kimia oxidizing membutuhkan pengetahuan dan pengalaman praktis. Jika tidak, risiko kebakaran akan sangat mungkin terjadi. Adapun beberapa contoh bahan kimia dengan sifat ini misalnya hidrogen peroksida dan kalium perklorat. Bila suatu saat Anda bekerja dengan kedua bahan tersebut, hindarilah panas, reduktor, serta bahan-bahan mudah terbakar lainnya. Frase-R untuk bahan pengoksidasi : R7, R8 dan R9.

3. Flammable (Mudah Terbakar)

Description: Simbol Bahan Kimia Mudah Terbakar

Simbol bahan kimia di samping menunjukan bahwa bahan tersebut besifat mudah terbakar (flammable). Bahan mudah terbakar dibagi menjadi 2 jenis yaitu Extremely Flammable (amat sangat mudah terbakar) dan Highly Flammable (sangat mudah terbakar. Bahan dengan label Extremely Flammable memiliki titik nyala pada suhu 0 derajat Celcius dan titik didih pada suhu 35 derajat Celcius. Bahan ini umumnya berupa gas pada suhu normal dan disimpan dalam tabung kedap udara bertekanan tinggi. Frase-R untuk bahan amat sangat mudah terbakar adalah R12. Bahan dengan label Highly Flammable memiliki titik nyala pada suhu 21 derajat Celcius dan titik didih pada suhu yang tak terbatas. Pengaruh kelembaban pada terbakar atau tidaknya bahan ini sangat besar. Oleh karena itu, mereka biasanya disimpan pada kondisi kelembaban tinggi. Frase-R untuk bahan sangat mudah terbakar yaitu R11. Adapun beberapa contoh bahan bersifat flammable dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1.    Zat terbakar langsung. Contohnya : aluminium alkil fosfor. Keamanan : hindari kontak bahan dengan udara.

2.    Gas amat mudah terbakar. Contohnya : butane dan propane. Keamanan : hindari kontak bahan dengan udara dan sumber api.

3.    Cairan mudah terbakar. Contohnya: aseton dan benzene. Keamanan : jauhkan dari sumber api atau loncatan bunga api.

4.    Zat sensitive terhadap air, yakni zat yang membentuk gas mudah terbakar bila kena air atau api.

 

4. Toxic (Beracun)

Simbol bahan kimia disamping mengunjukan bahwa bahan tersebut adalah bahan beracun. Keracunan yang bisa diakibatkan bahan kimia tersebut bisa bersifat akut dan kronis, bahkan bisa hingga menyebabkan kematian pada konsentrasi tinggi. Keracunan karena bahan dengan simbol di atas bukan hanya terjadi jika bahan masuk melalui mulut. Ia juga bisa meracuni lewat proses pernafasan (inhalasi) atau melalui kontak dengan kulit. Beberapa contoh bahan kimia bersifat racun misalnya arsen triklorida dan merkuri klorida. Bekerja dengan bahan-bahan tersebut harus memperhatikan keselamatan diri. Hindari kontak langsung dengan kulit, menelan, serta gunakan selubung masker untuk mencegah uapnya masuk melalui pernafasan.

5. Harmful Irritant (Bahaya Iritasi)

Simbol bahan kimia disamping sebetulnya terbagi menjadi 2 kode, yaitu kode Xn dan kode Xi. Kode Xn menunjukan adanya risiko kesehatan jika bahan masuk melalui pernafasan (inhalasi), melalui mulut (ingestion), dan melalui kontak kulit, contoh bahan dengan kode Xn misalnya peridin. Sedangkan kode Xi menunjukan adanya risiko inflamasi jika bahan kontak langsung dengan kulit dan selaput lendir, contoh bahan dengan kode Xi misalnya ammonia dan benzyl klorida. Frase-R untuk bahan berkode Xn yaitu R20, R21 dan R22, sedangkan untuk kode Xi yaitu R36, R37, R38 dan R41.

6. Corrosive (Korosif)

Simbol bahan kimia di samping menunjukan bahwa suatu bahan tersebut bersifat korosif dan dapat merusak jaringan hidup. Karakteristik bahan dengan sifat ini umumnya bisa dilihat dari tingkat keasamaannya. pH dari bahan bersifat korosif lazimnya berada pada kisaran < 2 atau >11,5. Beberapa contoh bahan dengan simbol ini misalnya belerang oksida dan klor. Jangan menghirup uap dari bahan ini, jangan pula membuatnya kontak langsung dengan mata dan kulit Anda.  Mereka juga bisa menyebabkan iritasi. Frase-R untuk bahan korosif yaitu R34 dan R35.

7. Dangerous for Enviromental (Bahan Berbahaya bagi Lingkungan)

Simbol bahan kimia pada gambar di samping menunjukan bahwa bahan tersebut berbahaya bagi lingkungan (dangerous for environment). Melepasnya langsung ke lingkungan, baik itu ke tanah, udara, perairan, atau ke mikroorganisme dapat menyebabkan kerusakan ekosistem. Beberapa contoh bahan dengan simbol ini misalnya tetraklorometan, tributil timah klorida, dan petroleum bensin. Frase-R untuk bahan berbahaya bagi lingkungan yaitu R50, R51, R52 dan R53. Demikianlah 7 simbol bahan kimia lengkap dengan keterangan dan gambarnya. Semoga bisa menjadi pengetahuan baru yang bermanfaat bagi keselamatan Anda suatu saat nanti (dba).

     

Jenis Bahan Kimia Mudah Terbakar

 Dalam kehidupan sehari-hari, kita dikelilingi oleh berbagai jenis bahan kimia. Bahan kimia ini sebagian besar terkandung dalam produk rumah tangga, industri, kosmetik dan masih banyak lagi. Beberapa di antara zat kimia ini termasuk ke dalam kategori bahan kimia mudah terbakar.

Bahan Kimia Zat Terbakar Langsung

Bahan kimia mudah terbakar contohnya yang pertama adalah zat yang bisa terbakar langsung. Bahan kimia yang mudah terbakar bereaksi langsung dengan oksigen di udara dan menghasilkan panas tinggi. Contohnya adalah hidrogen (H2), gas yang sangat mudah terbakar dan mudah meledak. Penanganan bahan kimia mudah terbakar ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menyebabkan risiko yang membahayakan.

 Gas yang Mudah Terbakar

Gas termasuk salah satu bahan kimia laboratorium yang mudah terbakar. Gas juga ditemukan dalam aktivitas sehari-hari berupa gas LPG untuk memasak. Ada beberapa jenis gas yang mudah terbakar apabila tercampur dengan udara dalam kadar tertentu dan tersulut api. Contohnya antara lain:

  • Propana (C3H8). Propana adalah gas hidrokarbon yang digunakan dalam kompor gas rumah tangga dan LPG. Disimpan dalam bentuk cair di bawah tekanan, propana mudah terbakar dan efisien menghasilkan panas, sehingga penanganannya harus hati-hati untuk mencegah kebakaran
  • Butana (C4H10). Butana, gas hidrokarbon dalam gas elpiji, digunakan untuk kompor portabel dan alat pemanas. Disimpan dalam tabung bertekanan rendah, butana mudah terbakar dan memerlukan penanganan yang hati-hati untuk menghindari kebakaran
  • Metana (CH4). Metana, gas hidrokarbon utama dalam gas alam, digunakan sebagai bahan bakar untuk listrik dan pemanas. Mudah terbakar dan efisien, metana memerlukan penanganan tepat untuk mengurangi risiko kebakaran dan dampak lingkungan.

Penyimpanan bahan kimia mudah terbakar di atas perlu dilakukan sesuai dengan ketentuan. Apabila kamu sering beraktivitas dengan gas-gas di atas, sangat direkomendasikan untuk menyiapkan alat pemadam api ringan seperti cairan pemadam api untuk mencegah risiko terjadinya kebakaran.

 Cairan yang Mudah Terbakar

Cairan mudah terbakar adalah zat cair yang memiliki titik nyala rendah, sehingga dapat dengan mudah terbakar saat terkena sumber panas atau api. Titik nyala adalah suhu terendah di mana cairan menghasilkan uap yang cukup untuk membentuk campuran yang mudah terbakar dengan udara. Contohnya antara lain adalah:

 Aseton (C3H6O)

Aseton adalah cairan yang sering digunakan sebagai pembersih cat kuku dan pelarut dalam berbagai aplikasi industri dan rumah tangga. Selain itu, aseton juga digunakan dalam proses pembuatan plastik, serat sintetis, dan obat-obatan. Sebagai cairan yang mudah menguap dan terbakar, aseton memerlukan penanganan yang hati-hati untuk mencegah kebakaran.

 Bensin (C8H18)

Bensin adalah cairan yang sangat mudah terbakar dan memiliki sifat yang mudah meledak, menjadikannya bahan bakar utama untuk kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor. 

Selain digunakan sebagai bahan bakar, bensin juga digunakan dalam beberapa proses industri sebagai pelarut. Penanganan dan penyimpanan bensin harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena uapnya dapat membentuk campuran yang mudah terbakar dengan udara.

 

Minyak Tanah (C11H24)

Minyak tanah termasuk bahan kimia mudah terbakar yang biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk lampu minyak, kompor, dan pemanas. Minyak tanah memiliki titik nyala yang lebih tinggi dibandingkan dengan bensin, sehingga lebih aman untuk penyimpanan dan penggunaan rumah tangga. Namun, tetap diperlukan kewaspadaan dalam penggunaannya untuk mencegah kebakaran.

 Alkohol (C2H5OH)

Alkohol, atau etanol, adalah cairan mudah terbakar yang ditemukan dalam berbagai jenis minuman beralkohol dan digunakan sebagai bahan bakar nabati. Etanol juga digunakan sebagai pelarut dalam industri farmasi dan kosmetik. Karena sifatnya yang mudah terbakar, penyimpanan dan penggunaan alkohol harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah terjadinya kebakaran.

 Zat yang Sensitif terhadap Air 

Zat-zat seperti natrium (Na) dan kalium (K) adalah logam yang sangat reaktif, terutama saat bersentuhan dengan air. Kedua logam ini bereaksi keras dengan air, menghasilkan panas yang tinggi dan gas hidrogen, yang dapat menyebabkan ledakan. Natrium, yang dikenal karena reaktivitasnya yang tinggi, langsung bereaksi dan menghasilkan nyala api. 

Kalium bahkan lebih reaktif daripada natrium, dengan reaksinya yang lebih eksplosif saat terkena air. Karena sifat-sifat ini, penanganan natrium dan kalium memerlukan tindakan pencegahan yang ketat untuk menghindari kontak dengan air dan mencegah potensi kebakaran atau ledakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berinteraksi dengan bahan kimia mudah terbakar seperti hidrogen, gas LPG (propana, butana, metana), cairan seperti aseton, bensin, minyak tanah, alkohol, serta zat yang sensitif terhadap air seperti natrium dan kalium. Penanganan dan penyimpanan bahan-bahan ini memerlukan kewaspadaan tinggi untuk mencegah kebakaran atau ledakan. Selalu siapkan alat pemadam kebakaran untuk mengurangi risiko kecelakaan

Selain memahami cara penanganan yang tepat untuk setiap zat kimia, jangan lupa bekali diri dan orang-orang di sekitarmu tentang cara menggunakan alat pemadam kebakaran termasuk cara isi ulang alat pemadam api ringan hingga masa kadarluasa alat pemadam api yang ada di rumah/gedungmu. Pemahaman ini dapat membantu menghindarkanmu dari risiko kebakaran yang merugikan.

Butuh perlengkapan pemadam termasuk alat pemadam api berat termasuk fire hydrant hingga alat pemadam api thermatic? Sahabat Utama Suksesindo sebagai importir alat pemadam kebakaran siap menyediakannya untukmu. 

 

BAHAN KIMIA BERACUN, BAHAYA, MELEDAK, DAN TERBAKAR

 Bahan kimia adalah zat murni ataupun campuran yang tersusun atas beragam elemen-elemen kimiawi. Sebagai contoh, air merupakan bahan kimia murni sebab homogen atau hanya terdiri dari satu jenis bahan saja yaitu seluruh strukturnya hanya terdapat molekul H2O saja.

Selain bahan kimia yang memang bermanfaat bagi manusia untuk memenuhi beragam kebutuhannya, banyak juga bahan kimia yang justru membahayakan.

Hal inilah yang menyebabkan biasanya pada setiap kemasan bahan kimia sudah terdapat tingkat bahayanya dan bagaimana cara penanganannya, sebelum menggunakan bahan tersebut sebaiknya kita memahami cara perlakuan bahan tersebut.

Contoh Bahan Kimia:

Contoh-contoh dalam simbul bahan kimia beracun, berbahaya, mudah meledak, dan mudah terbakar, antara lain:

Hidrogen Sianida 

Hidrogen sianida kadang-kadang disebut asam prussat, adalah senyawa kimia yang merupa cairan yang tidak berwarna, sangat beracun dan mudah terbakar yang mendidih sedikit di atas suhu kamar, pada suhu 25,6°C (78,1°F).

Hidrogen sianida digunakan secara komersial untuk fumigasi, pelapisan listrik, penambangan, sintesis kimia, dan produksi serat sintetis, plastik, pewarna, dan pestisida.

Ini memiliki efek seluruh tubuh (sistemik), terutama yang mempengaruhi sistem organ yang paling sensitif terhadap kadar oksigen rendah: sistem saraf pusat (otak), sistem kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), dan sistem paru (paru-paru).

Hidrogen Sulfida

Hidrogen sulfida adalah gas yang mudah terbakar dan tidak berwarna yang berbau seperti telur busuk. Orang biasanya dapat mencium bau hidrogen sulfida pada konsentrasi rendah di udara, mulai dari 0,0005 hingga 0,3 bagian per juta (ppm) (0,0005-0,3 bagian hidrogen sulfida dalam 1 juta bagian udara).

Pada konsentrasi tinggi, seseorang mungkin kehilangan kemampuan untuk menciumnya. Ini karena seseorang mungkin secara keliru berpikir bahwa hidrogen sulfida tidak lagi ada; ini dapat meningkatkan risiko pajanan mereka ke tingkat udara yang dapat menyebabkan efek kesehatan yang serius.

Hidrogen sulfida terjadi baik secara alami maupun dari proses buatan manusia. Itu berada di gas dari gunung berapi, mata air belerang, ventilasi bawah laut, rawa-rawa, dan genangan air dan dalam minyak bumi mentah dan gas alam.

Hidrogen Peroksida

Hidrogen peroksida adalah peroksida anorganik yang terdiri dari dua kelompok hidroksi yang bergabung dengan ikatan tunggal oksigen-oksigen kovalen. Ini digunakan sebagai zat pemutih dan antiseptic. Biasanya untuk memutihkan rambut dan gigi kami, tetapi di pabrik-pabrik digunakan untuk memutihkan kertas, mensterilkan mesin, dan memproduksi papan sirkuit cetak.

Hidrogen peroksida bersifat korosif sehingga dapat menyebabkan kerusakan mata yang ireversibel; luka bakar kaustik ke tenggorokan dan paru-paru hidung; serta lepuh, perdarahan dan kerusakan pada saluran pernapasan dan perut.

Risin

Risin, sebuah lektin (protein pengikat karbohidrat) yang diproduksi dalam biji tanaman minyak jarak, Ricinus communis, adalah racun yang sangat kuat. Dosis bubuk risin murni seukuran beberapa butir garam meja dapat membunuh manusia dewasa.

Dosis median letal (LD50) risin adalah sekitar 22 mikrogram per kilogram berat badan jika paparannya dari injeksi atau inhalasi (2 miligram untuk rata-rata orang dewasa). Paparan oral terhadap risin jauh lebih sedikit toksik karena beberapa racun tidak aktif dalam lambung. Diperkirakan dosis oral mematikan pada manusia adalah sekitar 1 miligram per kilogram.

Arsenik

Arsenik adalah metalloid elemen alami yang sebenarnya bukan logam tetapi yang memiliki beberapa sifat logam. Ini adalah komponen alami dari kerak bumi, umumnya ditemukan dalam pada semua batu, tanah, air dan udara. Namun, konsentrasi mungkin lebih tinggi di area tertentu karena kondisi alam atau aktivitas manusia.

Penambangan, peleburan logam, dan pembakaran bahan bakar fosil adalah proses industri utama yang berkontribusi terhadap kontaminasi arsenik terhadap udara, air, dan tanah. Penggunaan pestisida yang mengandung arsenik di masa lalu telah menyebabkan area pertanian yang luas terkontaminasi. Penggunaan arsenik dalam pelestarian kayu juga menyebabkan pencemaran lingkungan.

Merkuri

Merkuri adalah contoh kimia unsur yang terjadi secara alami yang ditemukan dalam batuan di kerak bumi, termasuk dalam endapan batubara. Pada tabel periodik, ia memiliki simbol “Hg” dan nomor atomnya adalah 80.

Ada dalam beberapa bentuk unsur (logam) merkuri, senyawa merkuri anorganik, dan metilmerkuri dan senyawa organik lainnya. Merkuri digunakan dalam termometer lama, bola lampu neon dan beberapa sakelar listrik.

Paparan merkuri – bahkan dalam jumlah kecil – dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, dan merupakan ancaman bagi perkembangan anak dalam kandungan dan di awal kehidupan. Merkuri dapat memiliki efek toksik pada sistem saraf, pencernaan dan kekebalan tubuh, dan pada paru-paru, ginjal, kulit dan mata.

Formaldehida

Formaldehida adalah gas yang tidak berwarna dan berbau kuat yang digunakan dalam pembuatan bahan bangunan dan banyak produk rumah tangga. Ini digunakan dalam produk kayu tekan, seperti papan partikel, kayu lapis, dan papan serat; lem dan perekat; kain pers permanen; pelapis produk kertas; dan bahan isolasi tertentu. Itu juga digunakan untuk membuat bahan kimia lainnya.

Mengingat penggunaannya yang luas, toksisitas, dan volatilitas, formaldehyde menimbulkan bahaya yang signifikan bagi kesehatan manusia. Pada tahun 2011, Program Toksikologi Nasional AS menggambarkan formaldehida sebagai “yang dikenal sebagai karsinogen manusia”.

Halogen

Halogen adalah grup dalam tabel periodik yang terdiri dari lima elemen yang berhubungan secara kimiawi: fluorin (F), klorin (Cl), bromin (Br), yodium (I), dan astatin (At). Nama “halogen” berarti “penghasil garam”.  Halogen cenderung menurun toksisitas terhadap halogen yang lebih berat.

Misalnya Gas klor sangat beracun. Menghirup klorin dengan konsentrasi 3 bagian per juta dapat dengan cepat menyebabkan reaksi toksik. Menghirup klorin dengan konsentrasi 50 ppm sangat berbahaya. Menghirup klorin dengan konsentrasi 500 bagian per juta selama beberapa menit adalah mematikan.

Sedangkan, Brom agak beracun, tetapi kurang toksik daripada fluor dan klorin. 100 miligram brom sangat mematikan. Anion bromida juga beracun, tetapi kurang sehingga bromin. Bromide memiliki 30 gram mematikan.

Acrilonitrile

Acrilonitrile adalah nitril yang merupakan hidrogen sianida di mana hidrogen telah digantikan oleh gugus etenil. Ini memiliki peran sebagai agen karsinogenik, agen antijamur, metabolit jamur, pelarut aprotik polar dan mutagen. Ini adalah nitril alifatik dan senyawa organik yang mudah menguap.

Akan tetapi potensi bahaya yang ditimbulkan jika terpapar dengan bahan kimia yang satu ini yaitu dapat berakibat fatal jika terhirup, diserap melalui kulit atau tertelan; uap mengiritasi mata dan saluran pernapasan; konsentrasi uap yang tinggi dapat menyebabkan sakit kepala, mual, pusing, kantuk, inkoordinasi, dan kebingungan.

Eksposur yang lebih parah dapat menyebabkan perubahan warna kebiruan pada kulit, keruntuhan dan kematian; Menyebabkan iritasi kulit dan mata yang parah; Potensi bahaya kanker – menyebabkan kanker berdasarkan pada informasi hewan.

Etile Oksida

Etilen oksida adalah gas yang mudah terbakar dengan bau yang agak manis. Mudah larut dalam air. Etilen oksida adalah bahan kimia buatan manusia yang digunakan terutama untuk membuat etilen glikol (bahan kimia yang digunakan untuk membuat antibeku dan poliester).

Sejumlah kecil (kurang dari 1%) digunakan untuk mengendalikan serangga di beberapa produk pertanian yang disimpan dan sejumlah kecil digunakan di rumah sakit untuk mensterilkan peralatan dan persediaan medis.

Akan tetapi, dalam jumlah yang berlebihan dapat membahayakan diantaranya yaitu bisa fatal jika dihirup; mengiritasi saluran pernapasan; Depresan sistem saraf pusat. Konsentrasi tinggi dapat menyebabkan sakit kepala, mual, pusing, kantuk, serta dapat menyebabkan kanker.

Kromium

Kromium merupakan logam transisi baja, abu-abu, berkilau, keras dan rapuh. Kromium adalah aditif utama dalam stainless steel, yang menambahkan sifat anti-korosif, sehingga kegunaan utamanya adalah dalam paduan seperti stainless steel, dalam pelapisan krom dan keramik logam.

Orang dapat terpapar kromium melalui pernapasan, makan atau minum dan melalui kontak kulit dengan senyawa kromium. Beberapa bahaya yang ditumbulkan diantaranya yaitu ruam kulit; sakit perut, bisul; masalah pernapasan; sistem kekebalan tubuh yang melemah; kerusakan ginjal dan hati; perubahan materi genetic; kanker paru-paru.

Asbes

Asbes adalah bahan alami yang tahan terhadap paparan api, suara, air, dan bahan kimia. Ini terdiri dari jutaan serat, yang mengikat bersama untuk membuat bahan yang ringan namun hampir tidak bisa dihancurkan.

Asbes ditambang dari deposit alami di seluruh dunia. Setelah dikeluarkan dari tanah, itu diproses dan dikembangkan menjadi bahan industri. Deposit asbes secara alami dapat ditemukan di negara-negara seperti Amerika Serikat, Cina, Rusia, dan Amerika Selatan.

Cara paling umum untuk serat asbes memasuki tubuh adalah melalui pernapasan. Faktanya, material yang mengandung asbes umumnya tidak dianggap berbahaya kecuali mengeluarkan debu atau serat ke udara tempat mereka dapat dihirup atau dicerna.

Etil Eter

Etil eter, juga disebut dietil eter, anestesi terkenal, yang biasa disebut eter sederhana, senyawa organik yang termasuk dalam kelompok besar senyawa yang disebut eter. Etil eter adalah cairan tidak berwarna, mudah menguap, mudah terbakar (titik didih 34,5° C [94,1°F]) dengan aroma yang kuat dan khas serta rasa panas dan manis.

Ini adalah pelarut yang banyak digunakan untuk bromin, yodium, sebagian besar zat berlemak dan resin, minyak atsiri, karet murni, dan alkaloid nabati tertentu. Ini adalah cairan yang mudah terbakar dan tidak berwarna. Ini umumnya digunakan sebagai pelarut di laboratorium dan sebagai cairan awal untuk beberapa mesin.

Bensin (Gasolin)

Bensin atau gasoline merupakan campuran hidrokarbon cair yang mudah menguap yang berasal dari minyak bumi dan digunakan sebagai bahan bakar untuk mesin pembakaran internal.

Bensin adalah zat berbahaya karena sangat mudah terbakar dan berbahaya bagi kesehatan kita, berpotensi menyebabkan kerusakan pada kulit dan mata, serta pusing, masalah pernapasan, kerusakan paru-paru dan kanker. Menangani dan menyimpan bensin dengan aman sangat penting.

Itu harus ditandai dengan jelas sebagai cairan yang mudah terbakar dan disimpan di tempat yang sejuk, berventilasi baik dalam wadah yang dirancang khusus. Uap dari bensin dapat dengan cepat menyebabkan kebakaran atau ledakan sehingga area pengeluaran harus benar-benar ditetapkan sebagai DILARANG MEROKOK dan jauh dari panas dan sumber penyulut lainnya.

Amonia

Amonia adalah azana yang terdiri dari atom nitrogen tunggal yang terikat secara kovalen dengan tiga atom hidrogen. Ammonia adalah salah satu bahan kimia industri dan pembersih yang paling umum digunakan di dunia.

Itu juga sangat mudah terbakar, korosif dan beracun bagi tubuh manusia kita. Paparan amonia menyebabkan terbakar langsung ke mata, hidung dan tenggorokan. Ini dapat menyebabkan kebutaan, kerusakan paru-paru dan kematian.

Aseton

Aseton adalah metil keton yang terdiri dari propana yang mengandung gugus okso di C2. Ini memiliki peran sebagai pelarut aprotik polar, metabolit manusia dan inhibitor EC 3.5.1.4 (amidase). Aseton digunakan sebagai bahan utama dalam penghapus cat kuku, pengencer cat, enamel, dan resin.

Aseton adalah barang berbahaya yang sangat mudah terbakar yang harus digunakan dan disimpan jauh dari panas, percikan api, nyala api, dan penumpukan listrik statis. Itu juga harus dijauhkan dari gas dan pengoksidasi yang mudah terbakar.

Aseton adalah iritasi pada kulit dan mata kita. Uap yang tertelan oleh tubuh dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, mengantuk, penglihatan kabur, dan kelelahan sementara paparan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati dan organ.

Benzene

Benzene adalah annulene aromatik enam karbon di mana setiap atom karbon menyumbangkan satu dari dua elektron 2p nya ke dalam sistem pi yang terdelokalisasi. Ini merupakan produk sampingan cair beracun yang mudah terbakar dari distilasi batubara, digunakan sebagai pelarut industri.

Benzene adalah karsinogen yang juga merusak sumsum tulang dan sistem saraf pusat. Ini memiliki peran sebagai pelarut non-polar, agen karsinogenik dan kontaminan lingkungan. Ini adalah annulene aromatik, senyawa organik yang mudah menguap dan anggota benzen.

Kadmium

Kadmium dalam bentuk unsurnya merupakan logam lunak, perak-putih. Biasanya tidak hadir dalam lingkungan sebagai logam murni, tetapi paling sering sebagai oksida kompleks, sulfida, dan karbonat dalam bijih seng, timah, dan tembaga.

Kadmium diproduksi terutama sebagai produk sampingan dari penambangan, peleburan dan pemurnian seng dan, pada tingkat yang lebih rendah, sebagai produk sampingan dari produksi timah dan tembaga.

Kadmium bukanlah unsur yang digunakan oleh tubuh, karena  itu beracun, terutama mempengaruhi ginjal dan tulang. Ini juga merupakan karsinogen jika terhirup. Kadmium dapat terakumulasi di dalam, hati, ginjal dan tulang, yang dapat berfungsi sebagai sumber pajanan di kemudian hari. Di lingkungan, kadmium beracun bagi tanaman, hewan, dan mikroorganisme.

Nitrogliserin

Nitrogliserin,  juga dikenal sebagai nitrogliserin, trinitrogliserin (TNG), nitro, gliseril trinitrat (GTN), atau 1,2,3-trinitroxypropane, adalah cairan padat, tidak berwarna, berminyak, bahan peledak yang paling umum diproduksi oleh nitrat gliserol dengan asam nitrat putih berasap dalam kondisi yang sesuai untuk pembentukan ester asam nitrat.

Diciptakan pada tahun 1847, nitrogliserin telah digunakan sebagai bahan aktif dalam pembuatan bahan peledak, sebagian besar dinamit, dan karena itu digunakan dalam industri konstruksi, pembongkaran, dan pertambangan. Sejak tahun 1880-an, telah digunakan oleh militer sebagai bahan aktif, dan gelatinizer untuk nitroselulosa, dalam beberapa propelan padat, seperti cordite dan ballistite.

Trinitrotoluene (TNT)

TNT adalah padatan kuning dan pertama kali diproduksi sebagai pewarna pada tahun 1863. Ia tidak meledak secara spontan dan sangat mudah dan nyaman untuk ditangani, sehingga sifat eksplosifnya hanya ditemukan sekitar 30 tahun kemudian oleh ahli kimia Jerman Carl Häussermann pada tahun 1891.

TNT bahkan dapat dicairkan dan dituangkan ke dalam bejana, tetapi itu akan meledak dengan bantuan detonator – dan dengan kekuatan yang besar, karena kelompok nitro dalam molekul dengan cepat berubah menjadi gas nitrogen.

Ini membuatnya ideal untuk digunakan dalam pembongkaran terkontrol, di mana bahan peledak dapat ditanam dan diledakkan ketika direncanakan (misalnya oleh penambang), menjadikannya bahan peledak yang relatif “aman”. Itu juga digunakan sebagai “ukuran standar” untuk bom, sehingga “ledakan” bahan kimia lainnya sering diukur relatif terhadap TNT.

Nah, itulah tadi serangkain artikel yang sudah kami tuliskan secara lengkap kepada segenap pembaca terkait dengan beragam contoh-contoh bahan kimia yang beracun, bahaya, mudah meledak, dan mudah terbakar. 

   

4 Contoh Bahan Kimia Mudah Terbakar

Contoh Bahan Kimia Mudah Terbakar

bahan kimia yang mudah terbakar dapat berwujud gas, cairan yang mudah menguap atau bahan padat berbentuk debu yang dapat meledak jika tercampur dengan udara sekitar.

Bahan mudah terbakar sendiri terbagi menjadi 2 jenis yaitu Extremely Flammable atau amat sangat mudah terbakar dan Highly Flammable atau sangat mudah terbakar.

Extremely Flammable memiliki titik nyala pada suhu 0 derajat celcius dan titik didihnya pada suhu 35 derajat celcius. Sedangkan Highly Flammable memiliki titik nyala pada suhu 21 derajat celcius dan titik didih dengan suhu yang tidak terbatas

Dari penjelasan di atas, menjadikan perlu adanya contoh bahan kimia mudah terbakar sebagai referensi ketika menggunakan bahan kimia. Berikut ini, contoh bahan kimia mudah terbakar.

1. Zat yang dapat Terbakar Langsung

Contoh zat yang dapat terbakar langsung yaitu aluminium alkil fosfor, Zat tersebut dapat dicegah terbakarnya dengan menghindari kontak dengan udara.

2. Gas Sangat Mudah Terbakar

Contoh gas sangat mudah terbakar yaitu butane dan propane. Terbakarnya gas ini dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan udara dan sumber api.

3. Cairan Mudah Terbakar

Contoh cairan mudah terbakar yaitu aseton dan benzene. Cairan ini dapat dicegah terbakarnya dengan menjauhkan dengan sumber api atau loncatan bunga api.

4. Zat Sensitif Terhadap Air

Zat ini merupakan zat yang mampu membentuk gas yang mudah terbakar jika terkena air atau api.

 Cara Mengatasi Bahan Kimia Mudah Terbakar

Seringkali kita melihat kemasan atau area penyimpanan bahan kimia dengan keterangan “Mudah Terbakar”. Istilah bahan kimia mudah terbakar ini biasa disebut juga dengan flammable. Bahan kimia mudah terbakar termasuk dalam kategori bahan kimia B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Sudah banyak contoh kasus kebakaran dan ledakan yang disebabkan oleh bahan kimia ini.

Salah satu sumber kebakaran oleh bahan kimia berbahaya biasanya berasal dari faktor penyimpanan. Untuk memahami cara penyimpanan yang aman, perlu diketahui terlebih dahulu sifat dan cara mengatasi reaksi kimia akibat interaksi dari bahan yang disimpan. Bahan kimia terbagi atas wujud larutan, padat, dan gas. Semua wujud tersebut memiliki peluang yang sama untuk menyebabkan terjadinya kebakaran, tentunya tergantung pada suhu, temperatur, dan situasi kondisi.

Apa itu bahan kimia mudah terbakar?

Bahan kimia yang mudah terbakar atau disebut juga flammable adalah bahan kimia yang mudah bereaksi dengan oksigen sehingga menimbulkan api atau kebakaran. Kebakaran terjadi bila ada unsur bahan, oksigen, dan panas yang bertemu.  Bahan mudah terbakar dibagi menjadi 2 jenis yaitu higly flammable (sangat mudah terbakardan extremly flammable (amat sangat mudah terbakar).

Bahan dengan label highly flammable memiliki pengaruh terhadap kelembapan sehingga disimpan pada kondisi kelembapan yang tinggi. Sedangkan bahan dengan label extremly flammable umumnya berupa gas pada suhu normal dan disimpan dalam tabung kedap udara bertekanan tinggi.

·         Adapun beberapa contoh bahan kimia bersifat flammable diklasifikasikan sebagai berkut :

·         Zat terbakar langsung (Alumunium, alkil, dan fosfor). Hindari kontak dengan udara.

·         Gas amat mudah terbakar (Butane dan propane). Hindari kontak dengan udara dan sumber api

·         Cairan mudah terbakar (Aseton dan benzene). Jauhkan dari sumber api atau loncatan bunga api.

·         Zat sensitive terhadap air, yaitu zat yang membentuk gas mudah terbakar bila kena air atau api.

Dampak yang dapat ditimbulkan

Kebakaran dapat terjadi bila bahan kimia yang mudah terbakar berkontak dengan sumber panas. Sumber panas dapat berupa api terbuka, logam panas, bara api, dan loncatan listrik. Kebakaran juga dapat menimbulkan ledakan dahsyat dan menghasilkan bahan baru yang bersifat racun. Itulah mengapa penting untuk mengetahui penyebab reaksi kimia akibat interaksi dari bahan-bahan yang disimpan.

Interaksi dapat berupa Interaksi antara bahan dan lingkungan dan Interaksi antar bahan. Interaksi antara bahan dan lingkungan contohnya seperti panas/percikan api yang dapat menimbulkan kebakaran dan ledakan terutama untuk zat yang mudah terbakar dan mudah meledak seperti pelarut organik dan peroksida. Sedangkan interaksi antar bahan yaitu seperti interaksi antara zat oksidator dan reduktor yang dapat menimbulkan ledakan dan kebakaran. Oleh karena itu beberapa bahan yang dapat bereaksi harus dipisahkan dalam penyimpanannya.

Cara mengatasi bahan kimia mudah terbakar

Dalam laboratorium, penyimpanan zat dan bahan kimia merupakan strategi yang dilakukan untuk mengurangi risiko kecelakaan. Setiap bahan memiliki sifat yang berbeda. Maka, dalam penyimpanan bahan kimia ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti aspek pemisahan, tingkat resiko bahaya, pelabelan, fasilitas penyimpanan, wadah sekunder, bahan kadaluarsa, inventarisasi, dan informasi resiko bahaya itu sendiri.

Bahan kimia mudah terbakar tidak boleh disimpan dengan bahan kimia lain dan harus disimpan secara khusus dalam wadah sekunder terisolasi yang jauh dari bahan oksidator, sumber api atau panas, termasuk loncatan api listrik dan bara. Hal ini dilakukan untuk mencegah pencampuran dengan sumber bahaya lain seperti api, gas beracun, dan ledakan. Tempat penyimpanan juga harus berada di ruangan dengan termperatur dingin dan berventilasi. Tak lupa sediakan pula alat pemadam kebakaran pada ruangan tersebut.

  

18 Simbol Bahan Kimia Beserta Arti & Klasifikasinya

Penggunaan simbol kimia dalam pelebelan bahan kimia sesuai karakteristik berbeda-beda. Bahan kimia merupakan senyawa yang memiliki karakteristik dimana berdasarkan fasanya berwujud cair, gas, dan padat. Dengan sifat dan konsentrasi yang dimiliki, bahan kimia dapat mencemari lingkungan hidup maupun merusak kesehatan manusia.  

Simbol Bahan Kimia

 

Berikut gambar simbol-simbol bahan kimia perlu diketahui

1. Simbol Bahan Kimia : Irritant (Iritasi)

 Bahan atau senyawa kimia dengan lambang “Xi” adalah bahan yang dapat menyebabkan inflamasi apabila kontak langsung dengan selaput lendir atau kulit. Meskipun dapat menyebabkan inflamasi tetapi bahan kimia ini tidak bersifat korosif. Efek yang ditimbulkan seperti gatal-gatal hingga luka bakar kecil pada kulit.

Oleh karena itu, diperlukan pencegahan dengan menggunakan masker dan sarung tangan. Berikut contoh bahan kimia Irritant:

  • Kalsium Klorida
  • Natrium Hidroksida
  • Toluena
  • Isobutanol
  • Isopropilamina

 2. Simbol Bahan Kimia : Harmfulness (Berbahaya)

Description: Simbol Bahan Kimia : Harmfulness (Berbahaya)

Bahan kimia berlambangkan “Xn” memiliki formula yang dapat merusak kesehatan pada tingkat sedang apabila masuk ke dalam tubuh melalui mulut, sistem inhalasi, dan kontak dengan kulit.

Hindari kontak langsung dan jangan sampai terhirup, tertelan, atau tersentuh kulit. Adapun contoh-contoh bahan kimia Harmful:

  • Ethanolamine
  • Methenamine
  • Asam sulfat

 

 3. Simbol Bahan Kimia : Toxic (Beracun)

  Formulasi yang terkandung pada bahan kimia ini dilambangkan dengan “T”, dimana dapat menyebabkan efek kerusakan kesehatan yang akut bahkan kematian meskipun terjadi kontak (melalui hidung, kulit, dan mulut) dalam konsentrasi yang rendah. Contoh bahan kimia beracun / toxic antara lain:

  • Metanol
  • Benzena

 4. Simbol Bahan Kimia :Very Toxic (Sangat Beracun)

 

Bahan kimia yang dilambangkan dengan “T+” memiliki sifat yang sangat beracun. Mampu menyebabkan sakit kronis hingga kematian apabila kontak langsung dengan tubuh maupun sistem pernafasan. Contoh:

  • Nitrobenzene
  • Kalium sianida

 5. Corrosive (Korosif)

 Dengan lambang “C”, bahan kimia ini memiliki sifat korosif dengan nilai pH sebesar < 2 atau > 12.5. Bahan kimia korosif mampu mengiritasi kulit hingga gatal-gatal dan mengelupas serta merusak jaringan hidup. Hindari bahan ini dari kontak langsung dengan kulit. Contoh bahan kimia dengan sifat korosif, yaitu:

  • Asam Klorida
  • Natrium Hidroksida >2%
  • Asam sulfat
  • Formic Acid

 6. Highly Flammable (Mudah Terbakar)

Bahan kimia yang memiliki titik nyala rendah (<21oC) di bawah kondisi tekanan atmosfer. Hindari bahan kimia tersebut dengan benda yang berpotensi mengeluarkan api atau bunga listrik. Berikut contoh-contoh dari bahan mudah terbakar:

  • Etanol
  • Aseton
  • Logam Natrium
  • Solven

 7. Extremely Flammable (Sangat Mudah Terbakar)

Bahan kimia ini dilambangkan dengan “F+” memiliki titik nyala yang sangat rendah yaitu <0oC, titik didih pada suhu

  • Diethyl Ether
  • Propane (Gas)

 8. Explosive (Mudah Meledak)

 Description: Explosive (Mudah Meledak)

Bahan kimia yang mudah meledak apabila terkena benturan, gesekan, pemanasan, sumber api maupun sumber nyala lainnya. Bahkan tanpa oksigen pun, bahan ini mudah meledak. Berikut bahan yang mudah meledak atau eksplosif:

  • TNT
  • NH4NO3
  • Butyric Acid (L)

 9. Oxidizing (Mudah Teroksidasi)

Lambang untuk bahan kimia ini adalah “O”, dimana memiliki sifat yang mudah terbakar apabila kontak langsung dengan bahan-bahan organik atau bahan pereduksi yang mampu menghasilkan panas. Contoh bahan-bahan kimia ini yaitu:

  • Hidrogen Peroksida
  • Kalium Perklorat
  • Kalium Permanganat
  • Asam Nitrat Pekat

 10. Dangerous For the Environment (Berbahaya untuk Lingkungan)

Bahan kimia yang mampu menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan mengganggu keseimbangan ekologi akibat kandungannya yang berbahaya. Lambang untuk bahan kimia ini yaitu “N”. Pencegahan dapat dilakukan dengan membuang bahan tersebut sesuai dengan tempat yang ditentukan dan tidak lupa untuk memisahkannya. Contoh bahan kimia dalam golongan ini:

  • Petroleum hidrokarbon
  • Tetraklorometan
  • Tributil Timah Klorida

 11. Flammable Solid (Padatan yang Mudah Terbakar)

Bahan kimia dalam kategori ini berwujud padat dan mudah terbakar. Karakteristik zat kimia ini adalah dapat bereaksi sendiri akibat ketidakstabilannya terhadap panas sehingga proses pencegahannya pun harus dihindarkan dengan panas atau reduktor, kontak dengan air, dan bahan-bahan yang mudah terbakar. Contoh bahan Flammable Solid tersebut yaitu:

  • Magnesium
  • Sulfur
  • Picric Acid

 12. Flammable Liquid (Cairan yang Mudah Terbakar)

Simbol ini menandakan bahan kimia tersebut mudah terbakar. Bahan-bahan berwujud cair yang mudah terbakar antara lain:

  • Aseton
  • Benzena
  • Petrol

 13. Flammable Gas (Gas yang Mudah Terbakar)

Description: Flammable Gas (Gas yang Mudah Terbakar)Simbol yang digunakan untuk menandakan bahan kimia berwujud gas yang mudah terbakar apabila terkena percikan api maupun panas. Contoh dari bahan ini yaitu:

  • LPG
  • Hidrogen
  • Asetilen

 14. Non Flammable Gas (Gas yang Tidak Mudah Terbakar)

Simbol berikut ini menandakan gas yang tersimpan maupun yang berada di transportasi tidak mudah terbakar, Seperti :

  • Oksigen
  • Helium
  • Nitrogen

 15. Dangerous When Wet (Bahaya saat Basah)

Menandakan material atau bahan kimia yang bereaksi cukup sensitif dengan air. Oleh karena itu, dalam penyimpanan dan penggunaannya, keadaan harus dipastikan kering. Bahan-bahan kimia yang memiliki sifat ini yaitu:

  • Potassium Phosphide
  • Calcium Carbide

 16. Organic Peroxide (Peroksida Organik)

Merupakan simbol bahan kimia yang digunakan pada suatu transportasi dan tempat penyimpanan peroksida organik untuk meminimalisir risiko kebakaran akibat sifat bahan kimia yang mudah teroksidasi. Berikut contoh-contoh dari bahan peroksida organik:

  • Dicetyl Perdicarbonate
  • Dicetyl Perdicarbonate
  • Methyl Ethyl Ketone Peroxide

 17. Poison (Beracun)

Simbol ini digunakan pada tempat penyimpanan maupun transportasi pengangkut bahan-bahan beracun dalam bentuk gas maupun non gas. Contoh bahan kimia dalam kategori ini:

  • Calcium Cyanide
  • Carbon Tetrachloride
  • Chlorine
  • Methil Bromide

 18. Radioactive (Radioaktif)

Menandakan adanya pancaran radiasi secara spontan akibat kandungan dari suatu bahan kimia atau campuran dari bahan-bahan lainnya. Radiasi ini dapat menyebabkan perubahan struktur DNA, sel, atau kromosom dalam jangka waktu bulanan atau tahunan. Contoh bahan kimia radioaktif yaitu:

  • Tritium
  • Uranium

 Ketentuan Simbol Bahan Kimia

 Penggunaan simbol harus sesuai dengan standar yang berlaku, dimana dapat dilihat pada Gambar 1. dan poin-poin dibawah ini:

  • Simbol yang terpasang paling rendah 10 cm x 10 cm, sedangkan untuk pengangkut dan tempat penyimpanan paling rendah 25 cm x 25 cm
  • Dapat terlihat jelas dari jarak 20 m
  • Berbentuk bujur sangkar yang diputar 45oC atau belah ketupat
  • Keempat sisi belah ketupat dibuat garis sejajar yang menyambung dengan ukuran 95% dari ukuran terluar
  • Warna garis dalam yang membentuk belah ketupat sama dengan warna gambar simbol limbah B3
  • Bagian bawah terdapat blok segilima dengan bagian atas datar dan bawah yang lancip
  • Warna simbol menggunakan car yang dapat berpendar
  • Bahan simbol tahan terhadap bahan kimia, goresan, dan kuat

Sedangkan untuk simbol-simbol yang digunakan untuk pengklasifikasian limbah B3 sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2013 antara lain: mudah meledak, cairan mudah menyala, padatan mudah menyala, reaktif, beracun, korosif, infeksius, dan berbahaya terhadap perairan. 

 KLASIFIKASI BAHAN BERBAHAYA ATAU “HAZARDOUS MATERIAL

merupakan proses identifikasi dan kategorisasi sebuah bahan kimia berdasarkan sifat bahaya yang dimiliki. Bicara mengenai “bahan berbahaya”, tentu muncul banyak pertanyaan.

Kode atau standar mana yang berlaku untuk menentukan bahan berbahaya? Berapa banyak bahan berbahaya tertentu yang bisa disimpan atau digunakan? Dan masih banyak pertanyaan lainnya seputar klasifikasi bahan berbahaya.

Apa Itu Bahan Berbahaya?

“Hazard” atau bahaya merupakan sumber dan situasi yang berpotensi menyebabkan kerugian atau kecelakaan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka “hazardous material” atau bahan berbahaya merupakan bahan berupa zat cair, padat, atau gas yang bisa merusak dan mecelakakan manusia, benda, serta lingkungan di sekitarnya.

National Fire Protection Association (NFPA) merupakan organisasi internasional yang menetapkan kode atau standar untuk mengurangi kematian, cedera, serta kerugian harga benda akibat kebakaran, listrik, dan bahaya terkait. NFPA telah menetapkan standar mengenai klasifikasi bahan berbahaya, yaitu NFPA 400: Hazardous Material Code.

Menurut standar NFPA 400, definisi bahan berbahaya adalah sebagai berikut:

Suatu zat atau bahan kimia yang diklasifikasikan sebagai bahan berbahaya fisik maupun bahan berbahaya bagi kesehatan. Baik bahan kimia maupun zat dalam kondisi layak pakai atau limbah.

Klasifikasi bahan berbahaya fisik atau physical hazard material antara lain:

·         Mudah meledak

·         Gas mudah terbakar

·         Kriogenik yang mudah terbakar

·         Padatan yang mudah terbakar

·         Cairan yang mudah terbakar

·         pengoksidasi

·         Peroksida organik

·         Kriogenik pengoksidasi

·         Tidak stabil (reaktif)

·         Piroforik

·         Bahan yang reaktif terhadap air

Sementara itu, health hazard material atau bahan berbahaya kesehatan adalah zat atau bahan kimia yang diklasifikasikan sebagai salah satu dari berikut ini:

·         Beracun

·         Sangat beracun

·         Bahan korosif

Tujuan Identifikasi dan Klasifikasi Hazardous Material

Bahan berbahaya yang digunakan secara tidak tepat bisa menimbulkan akibat yang fatal, seperti terjadinya ledakan dan kebakaran. Untuk mencegah insiden tersebut akibat kesalahan penanganan bahan berbahaya, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan identifikasi terhadap bahan tersebut.

Identifikasi bahan berbahaya adalah upaya untuk mengklarifikasi dan mengendalikan bahaya serta resiko yang dapat timbul akibat penggunaan bahan tertentu. Sementara itu, klasifikasi bahan berbahaya merupakan proses identifikasi dan kategorisasi sebuah bahan kimia berdasarkan sifat bahaya yang dimiliki. 

Tujuan klasifikasi bahan berbahaya adalah untuk memudahkan pengelolaan yang meliputi penyimpanan, penanganan, serta pengawasan. Selain itu, klasifikasi bahan berbahaya juga merupakan langkah preventif awal yang paling esensial dalam rangka pengurangan risiko. 

Sistem Klasifikasi Bahan Berbahaya di Dunia

Tantangan dalam mengklasifikasikan bahan berbahaya adalah tidak ada satu definisi yang konsisten mengenai “hazardous material”. Pasalnya, masing-masing negara atau organisasi internasional memiliki sistem klasifikasi bahan berbahaya yang berbeda. 

Beberapa badan atau organisasi internasional yang mengeluarkan standar dan kode hazardous material antara lain:

·         National Fire Protection Association (NFPA)

·         The United States Department of Transportation (DOT)

·         U.S. Occupational Safety and Health Administration (OSHA)

·         International Programme on Chemical Safety (IPCS)

·         International Labour Organisation (ILO)

·         European Union (EU)

·         Globally Harmonized System (GHS)

NFPA 400: Hazardous Material Code mengklasifikasikan hazardous material dalam 14 kategori. Klasifikasi bahan berbahaya oleh DOT yang dimaksudkan untuk keperluan transportasi bahan berbahaya dibagi ke dalam 9 kategori. Sementara itu, OSHA juga memiliki definisi sendiri mengenai hazardous material yang ditetapkan dalam 29 CFR. 

GHS, Sistem Klasifikasi Bahan Berbahaya Standar Internasional

Dengan adanya perbedaan klasifikasi bahan berbahaya di berbagai negara, maka dibentuklah sistem untuk mengharmonisasikan perbedaan tersebut. Sistem tersebut adalah The Globally Harmonized System (GHS) of Classification and Labelling of Chemicals yang dibuat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

GHS merupakan sistem untuk mengklasifikasi bahan-bahan kimia berbahaya secara menyeluruh. Adanya GHS dimaksudkan untuk menyelaraskan sistem kontrol klasifikasi bahan berbahaya yang sebelumnya berbeda di setiap negara. Dengan kata lain, GHS merupakan sistem klasifikasi bahan berbahaya secara internasional.

Dengan sistem ini, maka diharapkan tidak ada lagi kerancuan berkaitan dengan apakah sebuah bahan kimia berbahaya atau tidak. Manfaat lain dari GHS ini tentunya dapat meningkatkan keselamatan serta keamanan pekerja.

Klasifikasi Hazardous Material Berdasarkan DOT dan NFPA 400

U.S. Department of Transportation (DOT) merupakan lembaga pemerintah di Amerika Serikat yang menetapkan standar untuk transportasi material berbahaya. Label atau simbol bahan berbahaya tersebut dipasang pada kendaraan pengangkut dan kemasan paket. Baik pada transportasi darat, laut, maupun udara. 

Terdapat 9 klasifikasi bahan berbahaya menurut U.S. Department of Transportation (DOT) antara lain:

·         Kelas 1: Mudah meledak

·         Kelas 2: Gas

·         Kelas 3: Cairan dan uap mudah terbakar

·         Kelas 4: Padatan mudah terbakar, mudah terbakar secara spontan, dan berbahaya saat basah

·         Kelas 5: Oksidator dan peroksida organik

·         Kelas 6: Beracun atau bahaya terhirup racun

·         Kelas 7: Radioaktif

·         Kelas 8: Korosif

·         Kelas 9: Bahaya lainnya

NFPA 400: Hazardous Material Code merupakan kode atau standar untuk penyimpanan, penggunaan, dan penanganan bahan berbahaya di semua fasilitas dan hunian. Standar ini mengklasifikasikan bahan berbahaya dalam 14 kategori, yaitu:

1.    Padatan, cairan, atau gas korosif

2.    Padatan mudah terbakar

3.    Gas mudah terbakar

4.    Cairan kriogenik mudah terbakar

5.    Cairan kriogenik inert

6.    Gas inert

7.    Formulasi peroksida organik

8.    Oksidator padat atau cair

9.    Gas pengoksidasi

10. Cairan kriogenik pengoksidasi

11. Padatan, cairan, atau gas piroforik

12. Padatan, cairan, dan gas beracun atau sangat beracun

13. Padatan, cairan, atau gas tidak stabil

14. Padatan atau cairan yang reaktif terhadap air

Tantangan dalam Menentukan Klasifikasi Bahan Berbahaya


Salah satu tantangan dalam menentukan dan mengklasifikasikan bahan berbahaya yaitu antara dua sistem ternyata ada banyak kategori yang menggunakan kata-kata yang sama, namun memiliki ambang batas yang berbeda. Salah satu contohnya adalah klasifikasi bahan berbahaya berupa flammable liquid atau zat cair mudah terbakar.

DOT mendefinisikan flammable liquid sebagai cairan yang memiliki titik nyala lebih dari 60 °C (140 °F) atau bahan apapun dalam fase cair dengan titik nyala 37,8 °C (100 °F) atau di atasnya yang sengaja dipanaskan dan ditawarkan untuk diangkut atau diangkut pada atau di atas titik nyalanya dalam kemasan curah.

Sementara itu, NFPA 400 menyatakan bahwa flammable liquid adalah cairan yang mudah terbakar dengan klasifikasi cairan Kelas I. Terdapat tiga subklasifikasi cairan Kelas I menurut standar NFPA 400. dengan ambang batas spesifik sebagai berikut:

Subklasifikasi

Titik nyala

Titik didih

Cairan Kelas IA

di bawah 73°F (22.8°C)

di bawah 100°F (37.8°C)

Cairan Kelas IB

di bawah 73°F (22.8°C)

pada atau di atas 100°F (37.8°C)

Cairan Kelas IC

pada atau di atas 73°F (22.8°C) tapi di bawah 100°F (37.8°C)

tidak ada

Tantangan lain adalah fakta bahwa kode dan standar NFPA lainnya mungkin menggunakan definisi “hazardous material” yang berbeda. Contoh dokumen yang memberikan definisi hazardous material yang berbeda adalah NFPA 30 : Flammable and Combustible Liquids Code.

Standar NFPA 30 mendefinisikan bahan kimia berbahaya sebagai “bahan yang menghadirkan bahaya di luar masalah kebakaran yang berkaitan dengan titik nyala dan titik didih”. Dalam lampiran selanjutnya, dijelaskan bahwa bahaya lain tersebut mencakup hal-hal seperti reaktivitas, toksisitas, ketidakstabilan, dan korosif.

Meskipun tampak bertentangan dengan NFPA 400, namun definisi bahan berbahaya dari NFPA 30 sebenarnya tetap sejalan dengan bagaimana NFPA 400 diterapkan. 

Cara Identifikasi Hazardous Material


Sebelum menggunakan, menyimpan, atau mengangkut bahan berbahaya, maka Anda harus mengidentifikasi bahan berbahaya tersebut terlebih dahulu. Tujuannya agar upaya tersebut bisa dilakukan secara aman sesuai dengan karakteristik bahan berbahaya tersebut.

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah menentukan tujuan identifikasi bahan berbahaya tersebut. Apakah tujuan identifikasi bahan berbahaya tersebut untuk keperluan pengangkutan, penggunaan, penanganan, atau penyimpanan.

Sebagai contoh, jika bertujuan untuk pengangkutan material, maka bisa mengacu pada klasifikasi hazardous material dari U.S. Department of Transportation (DOT). Sementara itu, jika identifikasi bahan berbahaya yang bertujuan untuk penanganan, penggunaan, atau penyimpanan, maka bisa mengacu pada NFPA 400.

Selain itu, sangat penting untuk mengetahui sistem apa yang digunakan oleh bahan berbahaya tersebut untuk menentukan klasifikasi yang tepat. Baik dengan melihat pada Safety Data Sheet (SDS) atau menggunakan data uji yang sebenarnya. Dengan begitu, maka klasifikasi bahan berbahaya bisa ditentukan berdasarkan definisi yang tepat.

  KLASIFIKASI BAHAYA SESUAI GHS

Penulis: Widyaningrum Permata Siwi, ST. Fungsional PEDAL Ahli Pertama

Pengenalan Global Harmonized System (GHS). Pada artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai klasifikasi bahaya sesuai GHS berdasarkan UN GHS purple book. Didalam purple bookGlobal Harmonized System atau yang biasa disingkat GHS, disebutkan mencakup dua elemen ruang lingkup, yaitu :

a)kriteria harmonisasi untuk mengklasifikasikan senyawa tunggal dan senyawa campuran berdasarkan bahaya fisik, kesehatan dan lingkungan.

b)harmonisasi komunikasi bahaya, termasuk pelabelan dan lembar data keselamatan.

Klasifikasi bahaya berdasarkan GHS terbagi menjadi bahaya fisik, bahaya terhadap kesehatan dan bahaya terhadap lingkungan hidup. Dari klasifikasi bahaya tersebut diturunkan menjadi 29 kelas bahaya dan terbagi menjadi 107 kategori bahaya. Kategori bahaya merupakan pembagian kriteria dalam setiap kelas bahaya yang memiliki cara identifikasi yang berbeda. Berikut ini merupakan pembagian dari klasifikasi bahaya berdasarkan GHS.

A.Bahaya Fisik

·         Mudah meledak

·         Gas yang mudah terbakar

·         Aerosol

·         Gas pengoksidasi

·         Gas bertekanan

·         Cairan mudah terbakar

·         Padatan mudah terbakar

·         Senyawa yang dapat bereaksi sendiri (self reactive)

·         Cairan Piroforik

·         Padatan Piroforik

·         Senyawa yang dapat menghasilkan panas sendiri (self heating)

·         Senyawa yang apabila kontak dengan air dapat menghasilkan gas yang mudah terbakar

·         Cairan pengoksidasi

·         Padatan pengoksidasi

·         Peroksida organik

·         Korosif terhadap logam

·         Peledak yang telah dikurangi kepekaan ledakannya

1.Mudah meledak

a.Bahan dan campuran yang mudah meledak;

b.Artikel yang mudah meledak, kecuali alat yang mengandung senyawa peledak dengan jumlah tertentu atau karakter tertentu dimana pengapian yang muncul dari bahan ini secara tidak sengaja tidak akan menyebabkan dampak terhadap bahan lain yang meliputi api, asap, panas atau suara kencang

c.Senyawa dan artikel yang tidak termasuk dalam poin (a) dan (b) diatas yang diproduksi untuk menghasilkan ledakan atau efek piroteknik

  2.Gas yang mudah terbakar

Gas yang mudah terbakar adalah gas yang dapat terbakar dengan udara pada suhu 20 C dan tekanan udara standar 101.3 kPa. Gas mudah terbakar terbagi menjadi gas pirofirik dan gas yang tidak stabil secara kimia. Gas piroforik adalah gas yang mudah terbakar yang dapat menyala secara spontan di udara pada suhu 54˚C atau lebih rendah. Gas yang tidak stabil secara kimia adalah gas yang mudah terbakar yang mampu bereaksi secara eksplosif bahkan tanpa adanya udara atau oksigen

3.Aerosol

Aerosol, ini merujuk kepada aerosol dalam dispenser, adalah wadah non-isi ulang yang terbuat dari logam, kaca atau plastik dan mengandung gas yang dikompresi, dicairkan atau dilarutkan di bawah tekanan, dengan atau tanpa cairan, pasta atau bubuk, dan dilengkapi dengan perangkat pelepas yang memungkinkan isi yang akan dikeluarkan sebagai partikel padat atau cair dalam suspensi dalam gas, seperti busa, pasta atau bubuk atau dalam keadaan cair atau dalam keadaan gas.

Aerosol diklasifikasikan dalam salah satu dari tiga kategori kelas bahaya, tergantung pada sifat mudah terbakar dan panasnya pembakaran. Masing-masing harus dipertimbangkan untuk klasifikasi di Kategori 1 atau 2 jika mengandung lebih dari 1% komponen yang diklasifikasikan mudah terbakar sesuai kriteria GHS, yaitu :

- Gas mudah terbakar

- Cairan mudah terbakar

- Padatan mudah terbakar

atau jika panas dari pembakaran minimal 20 kj/g.

4.Gas pengoksidasi

Gas pengoksidasi adalah gas yang umumnya dengan tersedianya oksigen, dapat menyebabkan atau berkontribusi pada pembakaran bahan lain. 

5.Gas bertekanan

Gas bertekanan adalah gas yang terkandung dalam wadah pada tekanan 200 kPa atau lebih, pada suhu 20°C, atau gas yang dicairkan atau gas yang dicairkan kemudian didinginkan. Pada kelompok gas bertekanan terdiri dari gas terkompresi, gas cair, gas terlarut dan gas cair didinginkan.

6.Cairan mudah terbakar

Cairan yang mudah terbakar adalah cairan yang memiliki titik nyala tidak lebih dari 93°C. 

7.Padatan mudah terbakar

Padatan yang mudah terbakar adalah padatan yang mudah terbakar, atau dapat menyebabkan kebakaran melalui gesekan. Padatan mudah terbakar yaitu berupa bubuk, butiran, atau zat yang berbahaya yang dapat dengan mudah tersulut melalui kontak singkat dengan sumber penyalaan, seperti korek api, dan nyala api dapat menyebar dengan cepat.

8.Senyawa yang dapat bereaksi sendiri

Senyawa yang dapat bereaksi sendiri adalah senyawa cair atau padat yang tidak stabil secara termal yang dapat mengalami penguraian eksotermik dengan kuat walaupun tanpa partisipasi oksigen (udara). Definisi ini tidak termasuk senyawa yang tergolong sebagai bahan peledak, peroksida organik atau sebagai pengoksidasi. Senyawa yang dapat bereaksi sendiri dianggap memiliki sifat peledak apabila saat diuji di laboratorium senyawa tersebut dapat meledak, terdeposisi dengan cepat atau menunjukkan efek yang hebat saat dipanaskan di dalam ruang tertutup.

9.Cairan Piroforik

Cairan piroforik adalah cairan yang dalam jumlah kecil, dapat menyala dalam waktu lima menit setelah bersentuhan dengan udara.

10.Padatan Pirofirik

Padatan piroforik adalah padatan yang dalam jumlah kecil, dapat menyala dalam waktu lima menit setelah bersentuhan dengan udara.

11.Senyawa yang dapat menghasilkan panas sendiri

Senyawa yang dapat menghasilkan panas sendiri adalah zat padat atau cair, selain cairan atau padatan piroforik, yang melalui reaksi dengan udara dan tanpa suplai energi, dapat menyebabkan panas sendiri; senyawa ini berbeda dari cairan atau padatan piroforik karena hanya akan menyala jika dalam jumlah besar (kilogram) dan setelah jangka waktu yang lama (jam atau hari).

12.Senyawa yang apabila kontak dengan air dapat menghasilkan gas yang mudah terbakar

Zat atau campuran yang jika kontak dengan air, dapat menghasilkan gas yang mudah terbakar adalah senyawa padat atau cair yang apabila melalui interaksi dengan air, dapat menjadi mudah terbakar secara spontan atau mengeluarkan gas yang mudah terbakar dalam jumlah yang berbahaya.

13.Cairan pengoksidasi

Cairan pengoksidasi adalah cairan yang dengan sendirinya tidak selalu mudah terbakar, umumnya dengan menghasilkan oksigen, dapat menyebabkan atau berkontribusi pada pembakaran bahan lainnya.

14.Padatan pengoksidasi

Padatan pengoksidasi adalah padatan yang, dengan sendirinya tidak selalu mudah terbakar, umumnya dengan menghasilkan oksigen, dapat menyebabkan atau berkontribusi pada pembakaran bahan lainnya.

15.Peroksida organik

Peroksida organik adalah zat organik cair atau padat yang mengandung struktur bivalen dan dapat dianggap sebagai turunan hidrogen peroksida, di mana salah satu atau kedua atom hidrogen telah digantikan oleh radikal organik. Istilah ini juga mencakup formulasi peroksida organik. Peroksida organik adalah zat atau campuran yang tidak stabil secara termal, yang dapat mengalami dekomposisi eksotermik dengan percepatan sendiri. Selain itu, mereka mungkin memiliki satu atau lebih sifat berikut:

(a) dapat menyebabkan dekomposisi eksplosif;

(b) terbakar dengan cepat;

(c) peka terhadap benturan atau gesekan;

(d) bereaksi berbahaya dengan zat lain.

Suatu peroksida organik dianggap memiliki sifat eksplosif bila dalam pengujian laboratorium formulasi tersebut dapat meledak, terdeposisi dengan cepat atau menunjukkan efek hebat bila dipanaskan di wadah tertutup.

 

16.Korosif terhadap logam

Senyawa yang bersifat korosif terhadap logam adalah senyawa yang secara kimiawi akan merusak atau bahkan menghancurkan logam secara material.

17.Peledak yang telah dikurangi kepekaan ledakannya

a.Bahan peledak padat yang telah dikurangi kepekaan ledakannya: bahan peledak yang dibasahi dengan air atau alkohol atau diencerkan dengan bahan lain, untuk membentuk campuran padat homogen untuk menekan sifat ledakannya.

b.Bahan peledak cair yang telah dikurangi kepekaan ledakannya: bahan peledak yang dilarutkan atau disuspensikan dalam air atau bahan cair lainnya, untuk membentuk campuran cairan homogen untuk menekan sifat ledakannya.

B.Bahaya terhadap kesehatan

·         Toksisitas akut

·         Korosi dan iritasi kulit

·         Iritasi dan dapat merusak mata

·         Sensitivitas pada pernafasan atau kulit

·         Mutasi sel

·         Karsinogen

·         Toksisitas reproduksi

·         Toksisitas pada target organ tertentu ketika terkena pajanan tunggal

·         Toksisitas pada target organ tertentu ketika pajanan berulang

·         Bahaya aspirasi

1.Toksisitas Akut

Toksisitas akut mengacu pada efek kesehatan yang serius yang terjadi dalam jangka pendek setelah paparan oral, kulit atau inhalasi tunggal terhadap suatu senyawa.

2.Korosi dan iritasi kulit

Korosi kulit merupakan kerusakan permanen pada kulit akibat kematian sel atau jaringan, yang terlihat melalui epidermis dan ke dalam dermis yang terjadi setelah terpapar suatu zat atau campuran. Iritasi kulit yaitu kerusakan reversibel pada kulit yang terjadi setelah terpapar suatu zat atau campuran.

3.Kerusakan serius pada mata dan iritasi mata

Kerusakan mata yang serius yaitu kerusakan jaringan pada mata, atau kerusakan fisik yang serius pada penglihatan, yang tidak sepenuhnya dapat dikembalikan, yang terjadi setelah mata terpapar zat atau campuran. Iritasi mata yaitu perubahan pada mata, yang sepenuhnya reversibel, terjadi setelah paparan mata terhadap suatu zat atau campuran.

4.Sensitisasi pada pernafasan atau kulit

Sensitisasi pernapasan yaitu hipersensitivitas saluran udara yang terjadi setelah menghirup zat atau campuran. Sensitisasi kulit mengacu pada respons alergi yang terjadi setelah kontak kulit dengan suatu senyawa. Sensitisasi mencakup dua fase, fase pertama adalah induksi memori imunologi khusus pada individu yang terpajan alergen. Fase kedua adalah elisitasi, yaitu produksi respons alergi yang dimediasi sel atau yang dimediasi antibodi oleh paparan individu yang peka terhadap alergen.

 

 

Kelas bahaya sensitisasi pernapasan atau kulit dibedakan menjadi:

(a) Sensitisasi pernapasan; dan

(b) Sensitisasi kulit

5.Mutagenisitas sel

Mutagenisitas sel mengacu pada mutasi gen yang diwariskan, termasuk penyimpangan struktural dan numerik kromosom yang diwariskan dalam sel germinal yang terjadi setelah terpapar suatu zat atau campuran. Kelas bahaya ini berkaitan dengan bahan kimia yang dapat menyebabkan mutasi pada sel germinal manusia yang dapat ditularkan ke keturunannya. Mutasi didefinisikan sebagai perubahan permanen dalam jumlah atau struktur materi genetik dalam sel. Istilah mutagenik dan mutagen akan digunakan untuk agen yang meningkatkan terjadinya mutasi pada populasi sel dan/atau organisme. 

6.Karsinogen

Karsinogenisitas mengacu pada induksi kanker atau peningkatan insiden kanker yang terjadi setelah terpapar suatu senyawa. Klasifikasi suatu senyawa yang menimbulkan bahaya karsinogenik didasarkan pada sifat-sifat yang melekat dan tidak memberikan informasi tentang tingkat risiko kanker pada manusia yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan senyawa tersebut.

7.Toksisitas reproduksi

Toksisitas reproduksi yaitu efek buruk pada fungsi seksual dan kesuburan pada pria dan wanita dewasa, serta meliputi toksisitas perkembangan pada keturunannya, yang terjadi setelah terpapar suatu senyawa.

Dalam sistem klasifikasi ini, toksisitas reproduksi dibagi menjadi:

(a) Efek buruk pada fungsi seksual dan kesuburan;

(b) Efek buruk pada perkembangan keturunannya.

8.Toksisitas pada target organ tertentu ketika terkena pajanan tunggal

Toksisitas pada target organ tertentu yaitu efek toksik pada target organ tertentu yang tidak mematikan yang terjadi setelah terpapar suatu senyawa. Toksisitas pada target organ tertentu dapat terjadi melalui rute pajanan yang relevan untuk manusia, yaitu terutama oral, dermal atau inhalasi.

9.Toksisitas pada target organ tertentu ketika pajanan berulang

Toksisitas pada target organ tertentu melalui paparan berulang yaitu efek toksik pada organ target tertentu yang terjadi setelah paparan berulang terhadap suatu senyawa. Data dampak terhadap manusia yang ada akan menjadi sumber bukti utama untuk kelas bahaya ini. Penilaian harus mempertimbangkan tidak hanya perubahan signifikan pada satu organ atau sistem biologis tetapi juga perubahan umum yang tidak terlalu parah yang melibatkan beberapa organ.

10.Bahaya Aspirasi

Aspirasi berarti masuknya bahan kimia cair atau padat secara langsung melalui rongga mulut atau hidung, atau secara tidak langsung dari muntah, ke dalam trakea dan sistem pernapasan bagian bawah. Bahaya aspirasi meliputi efek akut yang parah seperti pneumonia kimia, cedera paru atau kematian yang terjadi setelah aspirasi suatu senyawa. Aspirasi suatu senyawa dapat terjadi ketika ada senyawa yang tertelan berusaha untuk dimuntahkan. Beberapa senyawa yang mempunyai bahaya toksisitas akut memang disarankan untuk dilakukan usaha untuk dimuntahkan apabila senyawa tersebut tertelan.

C.Bahaya terhadap lingkungan

1.Bahaya untuk lingkungan perairan

·         Toksisitas akut pada perairan

·         Toksisitas kronis pada perairan

·         Potensi terjadinya bioakumulasi

·         Degradasi untuk senyawa organik

a.Toksisitas akut pada perairan

b.Toksisitas kronis pada perairan

c.Potensi terjadinya bioakumulasi

d.Degradasi untuk senyawa organik

2.Bahaya terhadap Lapisan Ozon

Bahaya fisik terbagi menjadi 17 kelas bahaya, yaitu :

Senyawa peledak adalah senyawa padat atau cair atau senyawa campuran yang dengan reaksi kimianya mampu menghasilkan sendiri gas pada suhu dan tekanan serta kecepatan tertentu sehingga menyebabkan kerusakan ke lingkungan sekitarnya. Senyawa piroteknik termasuk kategori senyawa peledak meskipun senyawa ini tidak mengembangkan gas.

Kelas bahan peledak terdiri dari :

Gas yang mudah terbakar adalah gas yang dapat terbakar dengan udara pada suhu 20 C dan tekanan udara standar 101.3 kPa. Gas mudah terbakar terbagi menjadi gas pirofirik dan gas yang tidak stabil secara kimia. Gas piroforik adalah gas yang mudah terbakar yang dapat menyala secara spontan di udara pada suhu 54˚C atau lebih rendah. Gas yang tidak stabil secara kimia adalah gas yang mudah terbakar yang mampu bereaksi secara eksplosif bahkan tanpa adanya udara atau oksigen

Aerosol, ini merujuk kepada aerosol dalam dispenser, adalah wadah non-isi ulang yang terbuat dari logam, kaca atau plastik dan mengandung gas yang dikompresi, dicairkan atau dilarutkan di bawah tekanan, dengan atau tanpa cairan, pasta atau bubuk, dan dilengkapi dengan perangkat pelepas yang memungkinkan isi yang akan dikeluarkan sebagai partikel padat atau cair dalam suspensi dalam gas, seperti busa, pasta atau bubuk atau dalam keadaan cair atau dalam keadaan gas.

Aerosol diklasifikasikan dalam salah satu dari tiga kategori kelas bahaya, tergantung pada sifat mudah terbakar dan panasnya pembakaran. Masing-masing harus dipertimbangkan untuk klasifikasi di Kategori 1 atau 2 jika mengandung lebih dari 1% komponen yang diklasifikasikan mudah terbakar sesuai kriteria GHS, yaitu :

- Gas mudah terbakar

- Cairan mudah terbakar

- Padatan mudah terbakar

atau jika panas dari pembakaran minimal 20 kj/g.

Gas pengoksidasi adalah gas yang umumnya dengan tersedianya oksigen, dapat menyebabkan atau berkontribusi pada pembakaran bahan lain.

Gas bertekanan adalah gas yang terkandung dalam wadah pada tekanan 200 kPa atau lebih, pada suhu 20°C, atau gas yang dicairkan atau gas yang dicairkan kemudian didinginkan. Pada kelompok gas bertekanan terdiri dari gas terkompresi, gas cair, gas terlarut dan gas cair didinginkan.

Cairan yang mudah terbakar adalah cairan yang memiliki titik nyala tidak lebih dari 93°C.

Padatan yang mudah terbakar adalah padatan yang mudah terbakar, atau dapat menyebabkan kebakaran melalui gesekan. Padatan mudah terbakar yaitu berupa bubuk, butiran, atau zat yang berbahaya yang dapat dengan mudah tersulut melalui kontak singkat dengan sumber penyalaan, seperti korek api, dan nyala api dapat menyebar dengan cepat.

Senyawa yang dapat bereaksi sendiri adalah senyawa cair atau padat yang tidak stabil secara termal yang dapat mengalami penguraian eksotermik dengan kuat walaupun tanpa partisipasi oksigen (udara). Definisi ini tidak termasuk senyawa yang tergolong sebagai bahan peledak, peroksida organik atau sebagai pengoksidasi. Senyawa yang dapat bereaksi sendiri dianggap memiliki sifat peledak apabila saat diuji di laboratorium senyawa tersebut dapat meledak, terdeposisi dengan cepat atau menunjukkan efek yang hebat saat dipanaskan di dalam ruang tertutup.

Cairan piroforik adalah cairan yang dalam jumlah kecil, dapat menyala dalam waktu lima menit setelah bersentuhan dengan udara.

Padatan piroforik adalah padatan yang dalam jumlah kecil, dapat menyala dalam waktu lima menit setelah bersentuhan dengan udara.

Senyawa yang dapat menghasilkan panas sendiri adalah zat padat atau cair, selain cairan atau padatan piroforik, yang melalui reaksi dengan udara dan tanpa suplai energi, dapat menyebabkan panas sendiri; senyawa ini berbeda dari cairan atau padatan piroforik karena hanya akan menyala jika dalam jumlah besar (kilogram) dan setelah jangka waktu yang lama (jam atau hari).

Zat atau campuran yang jika kontak dengan air, dapat menghasilkan gas yang mudah terbakar adalah senyawa padat atau cair yang apabila melalui interaksi dengan air, dapat menjadi mudah terbakar secara spontan atau mengeluarkan gas yang mudah terbakar dalam jumlah yang berbahaya.

Cairan pengoksidasi adalah cairan yang dengan sendirinya tidak selalu mudah terbakar, umumnya dengan menghasilkan oksigen, dapat menyebabkan atau berkontribusi pada pembakaran bahan lainnya.

Padatan pengoksidasi adalah padatan yang, dengan sendirinya tidak selalu mudah terbakar, umumnya dengan menghasilkan oksigen, dapat menyebabkan atau berkontribusi pada pembakaran bahan lainnya.

Peroksida organik adalah zat organik cair atau padat yang mengandung struktur bivalen dan dapat dianggap sebagai turunan hidrogen peroksida, di mana salah satu atau kedua atom hidrogen telah digantikan oleh radikal organik. Istilah ini juga mencakup formulasi peroksida organik. Peroksida organik adalah zat atau campuran yang tidak stabil secara termal, yang dapat mengalami dekomposisi eksotermik dengan percepatan sendiri. Selain itu, mereka mungkin memiliki satu atau lebih sifat berikut:

(a) dapat menyebabkan dekomposisi eksplosif;

(b) terbakar dengan cepat;

(c) peka terhadap benturan atau gesekan;

(d) bereaksi berbahaya dengan zat lain.

Suatu peroksida organik dianggap memiliki sifat eksplosif bila dalam pengujian laboratorium formulasi tersebut dapat meledak, terdeposisi dengan cepat atau menunjukkan efek hebat bila dipanaskan di wadah tertutup.

Senyawa yang bersifat korosif terhadap logam adalah senyawa yang secara kimiawi akan merusak atau bahkan menghancurkan logam secara material.

Bahan peledak yang yang telah dikurangi kepekaan ledakannya adalah senyawa bahan peledak padat atau cair yang diawetkan untuk menekan sifat peledaknya sedemikian rupa sehingga tidak meledak massal dan tidak terbakar terlalu cepat dan oleh karena itu dapat dikecualikan dari kelas bahaya Bahan Peledak.

Kelas bahan peledak yang telah dikurangi kepekaan ledakannya terdiri dari:

Bahaya terhadap kesehatan terbagi menjadi 10 kelas bahaya, yaitu:

Toksisitas akut mengacu pada efek kesehatan yang serius yang terjadi dalam jangka pendek setelah paparan oral, kulit atau inhalasi tunggal terhadap suatu senyawa.

Korosi kulit merupakan kerusakan permanen pada kulit akibat kematian sel atau jaringan, yang terlihat melalui epidermis dan ke dalam dermis yang terjadi setelah terpapar suatu zat atau campuran. Iritasi kulit yaitu kerusakan reversibel pada kulit yang terjadi setelah terpapar suatu zat atau campuran.

Kerusakan mata yang serius yaitu kerusakan jaringan pada mata, atau kerusakan fisik yang serius pada penglihatan, yang tidak sepenuhnya dapat dikembalikan, yang terjadi setelah mata terpapar zat atau campuran. Iritasi mata yaitu perubahan pada mata, yang sepenuhnya reversibel, terjadi setelah paparan mata terhadap suatu zat atau campuran.

Sensitisasi pernapasan yaitu hipersensitivitas saluran udara yang terjadi setelah menghirup zat atau campuran. Sensitisasi kulit mengacu pada respons alergi yang terjadi setelah kontak kulit dengan suatu senyawa. Sensitisasi mencakup dua fase, fase pertama adalah induksi memori imunologi khusus pada individu yang terpajan alergen. Fase kedua adalah elisitasi, yaitu produksi respons alergi yang dimediasi sel atau yang dimediasi antibodi oleh paparan individu yang peka terhadap alergen. Kelas bahaya sensitisasi pernapasan atau kulit dibedakan menjadi:

(a) Sensitisasi pernapasan; dan

(b) Sensitisasi kulit

Mutagenisitas sel mengacu pada mutasi gen yang diwariskan, termasuk penyimpangan struktural dan numerik kromosom yang diwariskan dalam sel germinal yang terjadi setelah terpapar suatu zat atau campuran. Kelas bahaya ini berkaitan dengan bahan kimia yang dapat menyebabkan mutasi pada sel germinal manusia yang dapat ditularkan ke keturunannya. Mutasi didefinisikan sebagai perubahan permanen dalam jumlah atau struktur materi genetik dalam sel. Istilah mutagenik dan mutagen akan digunakan untuk agen yang meningkatkan terjadinya mutasi pada populasi sel dan/atau organisme.

Karsinogenisitas mengacu pada induksi kanker atau peningkatan insiden kanker yang terjadi setelah terpapar suatu senyawa. Klasifikasi suatu senyawa yang menimbulkan bahaya karsinogenik didasarkan pada sifat-sifat yang melekat dan tidak memberikan informasi tentang tingkat risiko kanker pada manusia yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan senyawa tersebut.

Toksisitas reproduksi yaitu efek buruk pada fungsi seksual dan kesuburan pada pria dan wanita dewasa, serta meliputi toksisitas perkembangan pada keturunannya, yang terjadi setelah terpapar suatu senyawa.

Dalam sistem klasifikasi ini, toksisitas reproduksi dibagi menjadi:

(a) Efek buruk pada fungsi seksual dan kesuburan;

(b) Efek buruk pada perkembangan keturunannya.

Toksisitas pada target organ tertentu yaitu efek toksik pada target organ tertentu yang tidak mematikan yang terjadi setelah terpapar suatu senyawa. Toksisitas pada target organ tertentu dapat terjadi melalui rute pajanan yang relevan untuk manusia, yaitu terutama oral, dermal atau inhalasi.

Toksisitas pada target organ tertentu melalui paparan berulang yaitu efek toksik pada organ target tertentu yang terjadi setelah paparan berulang terhadap suatu senyawa. Data dampak terhadap manusia yang ada akan menjadi sumber bukti utama untuk kelas bahaya ini. Penilaian harus mempertimbangkan tidak hanya perubahan signifikan pada satu organ atau sistem biologis tetapi juga perubahan umum yang tidak terlalu parah yang melibatkan beberapa organ.

Aspirasi berarti masuknya bahan kimia cair atau padat secara langsung melalui rongga mulut atau hidung, atau secara tidak langsung dari muntah, ke dalam trakea dan sistem pernapasan bagian bawah. Bahaya aspirasi meliputi efek akut yang parah seperti pneumonia kimia, cedera paru atau kematian yang terjadi setelah aspirasi suatu senyawa. Aspirasi suatu senyawa dapat terjadi ketika ada senyawa yang tertelan berusaha untuk dimuntahkan. Beberapa senyawa yang mempunyai bahaya toksisitas akut memang disarankan untuk dilakukan usaha untuk dimuntahkan apabila senyawa tersebut tertelan.

Bahaya terhadap lingkungan terbagi menjadi 2 kelas bahaya, yaitu bahaya terhadap lingkungan perairan dan bahaya terhadap lapisan ozon.

Dasar klasifikasi bahaya terhadap lingkungan perairan terbagi menjadi :

Toksisitas akut pada perairan adalah sifat intrinsik suatu zat untuk dapat memberikan efek merugikan terhadap suatu organisme dalam paparan jangka pendek terhadap zat tersebut.

Toksisitas kronis pada perairan adalah sifat yang dimiliki suatu senyawa yang membahayakan suatu organisme ketika senyawa tersebut terpajan ke air dalam jangka panjang atau jangka waktu yang ditentukan dalam kaitannya dengan siklus hidup organisme tersebut.

Bioakumulasi adalah total akumulasi suatu zat dalam organisme dari hasil penyerapan, transformasi dan eliminasi melalui semua jalur paparan (udara, air, sedimen dan makanan).

Degradasi adalah dekomposisi molekul organik ke molekul yang lebih kecil dan akhirnya menjadi karbon dioksida, air dan garam. Degradasi dilingkungan dapat bersifat biotik atau abiotik seperti hidrolisis.

Bahaya terhadap lapisan ozon ditentukan berdasarkan Protokol Montreal. Protokol Montreal adalah kesepakatan yang dilakukan di Montreal tentang senyawa yang dapat merusak lapisan Ozon sebagaimana ditetapkan oleh Para Pihak dalam Protokol Montreal. Ozone Depleting Potential (ODP) merupakan potensi penipisan ozon yang disebabkan oleh suatu jenis bahan kimia relatif terhadap CFC-11. Suatu zat atau campuran yang tercantum dalam Lampiran Protokol Montreal; atau Campuran apa pun yang mengandung setidaknya satu bahan yang tercantum dalam Lampiran Protokol Montreal, pada konsentrasi 0,1% diklasifikasikan sebagai Kategori 1.

Referensi :

Globally harmonized system of classification and labelling of chemicals. Eight revised edition. UN New York and Geneva, 2019.